published by Media Indonesia – Minggu, 6 September 2009

Seberapa teduhkah Kota Jakarta? Mari temukan pengalaman-pengalaman mengenal lebih dekat lingkungan dan budaya Kota Jakarta sambil berjalan kaki untuk sikap-sikap dan wawasan yang berkelanjutan bersama Peta Hijau Jakarta.

Maukah Anda berjalan kaki di Jakarta? Jika pertanyaan ini diutarakan kepada setiap warga Jakarta, pasti didapatkan penolakan yang absolut.

Memang, berjalan kaki di Jakarta menawarkan serangkaian risiko yang justru lebih berbahaya daripada berkendara sekalipun. Dari mulai terhirupnya asap beracun dari kendaraan yang melintas, radiasi sinar matahari yang menyengat kulit karena tidak adanya naungan yang memadai, samapai risiko kehilangan nyawa karena buruknya perilaku warga Jakarta dalam berkendara.

Semua itu terkait dengan ketiadaan fasilitas yang mumpuni bagi pejalan kaki di Jakarta. Sebuah ironi karena Jakarta, sebagai ibu kota Negara Indonesia, tentunya menawarkan segala kemungkinan untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduknya, namun tidak untuk kebutuhan paling manusiawi sekalipun, yaitu berjalan kakai. Seandainya menjadi Gubernur DKI Jakarta, aku akan mewajibkan budaya berjalan kaki.

Berjalan kaki membuat seseorang lebih memperhatikan lingkungannya ketimbang ketika ia berkendara. Ketika berjalan, minimal Anda pasti melihat keadaan sekitar. Dari hal tersebut, akan tercipta sebuah penilaian, apakah lingkungan tersebut dalam keadaan baik.

Jika terlihat pemandangan yang negatif, naluri Anda pasti akan segera menangkalnya. Karena lingkungan yang buruk lambat laun menimbulkan dampak negatif terhadap sekitarnya.

Mungkin saja kehidupan Anda kini terancam, namun karena tidak menyadarinya, Anda tenang-tenang saja. Jika Anda terbiasa berjalan kaki, pasti ancaman itu sudah diketahui sebelumnya.

Keadaan Kota Jakarta yang semrawut karena akumulasi padatnya jumlah kendaraan serta buruknya perilaku kendaraan, mungkin maerupakan akibat dari minimnya kebiasaan warga Jakarta berjalan kaki.

Mereka tentu tidak tahu rasanya berjalan kaki di pinggir jalan sehingga dengan bebas mengeluarkan gas kendaraan berwarna hitam pekat itu. Atau mungkin, kemacetan yang menjadi ikon Kota Jakarta, bisa dikurangi dengan budaya berjalan kaki.

Bagi warga Jakarta, setiap keluar rumah haruslah berkendara. Dengan fenomena ini, tak mengherankan memang jika Jakarta penuh dengan kendaraan sehingga terjadi kemacetan di mana-mana.

Terkadang kenyamanan menjadi tameng mereka berkendara.

Bagaimana mungkin mereka menuntut kenyamanan bertransportasi jika tidak pernah merasakan kenyamanan berjalan kaki. Agak mengherankan, bukan?

Untuk itu, cobalah dahulu berjalan kaki. Warga Jakarta, buka mata dan rasakan keadaan sekitar Anda. Mungkin saja Anda menemunkan sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui, padahal dekat dengan tempat tinggal Anda. Saat ini banyak taman di Jakarta, yang tidak disadari atau diketahui oleh penghuni sekitarnya. Atau tahukah Anda, masih ada kicauan burung di kota metropolitan ini? Maka, berjalan kakilah. Manfaatkan seluruh indera yang merupakan asset termahal yang dimiliki setiap manusia!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *