Setelah menyatakan keresahan hebat  dan kerisihan saya pada profesi arsitek, identitas yang melekat sesuai latar belakang pendidikan saya,

Setelah mencoba menggeluti dunia konstruksi bangunan, saya justru merasakan keprihatinan dan kemirisan akibat kerusakan lingkungan yang diakibatkannya,

saya mengambil sikap untuk tidak lagi mementingkan sebutan ‘arsitek’,

saya mengambil sikap untuk tidak lagi berkecimpung dalam bidang konstruksi, jalan berarsitektur populer.

apalagi -entah kenapa- saya justru didekatkan pada “arsitektur lain” yang lebih menyejukkan.

Pilihan lain yang tidak membuat saya ahli membangun bangunan, seperti keahlian seharusnya yang dimiliki seorang arsitek populer.

Saya harus jujur untuk tidak tahu mendalam tentang pondasi bangunan, menggeleng ketika ditanya tentang harga material atau teknik membangun yang paling terjangkau, juga dijamin akan tutup mulut perihal kecanggihan teknologi terkini tentang konstruksi bangunan.

 

Di luar itu, saya tetap bersyukur dan beruntung bisa mengenyam pendidikan arsitektur,

Saya dibekali ilmu untuk merancang, dilatih untuk selalu punya pilihan untuk mencipta baru, tidak sekedar menggunakan yang sudah ada.

Apalagi, bisa menggauli ilmu tentang ruang dan rasa, dekat dengan unsur manusia sebagai subyek belajar yang tiada habisnya. Bisa melatih kepekaan diri tentang rasa dan ruang kegiatan manusia, disamping benturan yang selalu harus dihadapi dengan kreatifitas.

 

Saya masih dan selalu merasakan kehebatan ketika berada di bangunan atau ruangan yang digarap oleh seorang arsitek dengan serius. Tidak terelakkan jika tangan arsitek memang membuatnya terasa berbeda.

Saya masih dan selalu tertarik membaca buku tentang arsitektur, baik bacaan tentang kota atau buku berisi foto-foto indah tentang desain ruang.

Saya tetap ingin dekat dengan dunia desain, walau harus mengakui itu bukan kekuatan saya.

Saya tetap ingin dekat dengan kepekaan merancang, yang fokus pada efisiensi ruang. Membuang hal-hal yang tidak berguna. Namun tetap memberikan kenyamanan maksimal.

Saya tetap ingin terlibat dalam ‘proyek’ desain kecil-kecilan, sekedar rumah pribadi yang sarat sentuhan personal atau bahkan mendambakan proyek sederhana yang melibatkan orang banyak –masyarakat- sebagai (calon) penggunanya. Sekedar tempat berkumpul, tempat bermain, tempat belajar, ruang interaksi masyakat atau tempat untuk menampung kegiatan masyarakat lainnya.

Mendambakan kesempatan untuk belajar pada masyarakat tentang hal sederhana, yang justru tepat guna, namun sering terabaikan diterapkan dalam kehidupan.

Membayangkan bergelut dalam ‘arsitektur lain’ yang hanya sebatas memfasilitasi, membagi ilmu pada masyarakat agar mereka dapat mewujudkan sesuai harapan dan kebutuhan mereka, agar dampaknya pun bisa terasa langsung pada kegiatan dan lingkungan yang lebih baik.

Saya terlanjur parno dengan proyek fantastis sarat kapitalisme, seperti gedung bertingkat, hotel, ataupun mall.

 

“Bangunan tidak serta-merta menjadi arsitektur karena mereka besar atau mahal tapi karena memiliki muatan budaya – sesuatu yang bisa kita sebut ‘makna’,” Andrew Ballantyne – What Is Architecture?

Jalan “arsitektur lain” yang didekatkan pada saya mengajarkan untuk lebih menghargai lahan terbuka dimana tanah masih bisa menyerap air, menghargai tumbuhan besar yang sudah ada, menghargai habitat fauna yang hidup bebas berkeliaran di sana, tentunya tidak mengabaikan kehidupan orang yang sudah ada.

Saya diajarkan bahwa mempertahankan dan memperbaiki keseimbangan lingkungan alam adalah segalanya, karena mustahil manusia bisa hidup nyaman tanpa didukung lingkungan yang baik.

Saya didekatkan pada fakta bahwa tidak ada belahan dunia manapun yang terhindar dari dampak kerusakan lingkungan. Fenomena sudah di depan mata, segala yang sedianya bisa disediakan dari lingkungan yang baik telah mengalami krisis, air bersih dan udara sehat. Apalagi ditambah ancaman bencana yang mengikutinya semakin nyata saja, banjir, rob, kemacetan lalu lintas, pencemaran udara, dan penyakit lingkungan.

Saya ngeri sendiri membaca fakta dari Buku “RTH 30%” :

“Suhu bumi naik 0,13-0,15 derajat C (1990-2005) dan diperkirakan naik sebanyak 4,2 derajat C (2050-2070). Jika suhu Bumi naik 1,5 derajat Celcius, sekitar 20-30% species tumbuh-tumbuhan dan hewan dapat punah. Jika kenaikan temperatur mencapai 3 derajat Celcius, 40-70 persen species mungkin musnah.”

“Akibat ekosistemnya tak sesuai lagi, hewan terancam punah, tetapi ada pula hewan yang berkembang biak tak terkendali. Banyak tanaman tidak bisa hidup di lokasi yang dulu. Ini mengubah peta pertanian, perkebunan, dan peternakan dunia. Ketahanan pangan terancam dan kelaparan menghantui dunia!”

“1,1 Milyar orang di dunia (1/8 dari total penduduk dunia) tidak memiliki akses terhadap air minum layak konsumsi. 2,2 juta orang di negara berkembang, terutama anak-anak, mati setiap tahun karena penyakit akibat sanitasi yang buruk, kurang akses air minum layak konsumsi, dan kesehatan makanan yang buruk.”

Intinya, Bumi sudah tidak lagi aman dan nyaman untuk kehidupan manusia yang ideal.

Keterlaluan bagi saya yang dekat menggeluti isu lingkungan, masih saja ikut menggerus tanah dengan beton hanya demi segolongan manusia yang beruang banyak, apalagi sekedar mengagungkan arsitektur populer akibat keterpukauan pada modernitas.

 

Dengan jalan “arsitektur lain” yang didekatkan pada saya, seperti selalu diingatkan untuk tetap mengedepankan lingkungan, demi kehidupan rasa manusiawi; aman, nyaman, sehat dan layak.

 

Walau tidak ingin disebut sebagai arsitek, memutuskan untuk bersekolah arsitektur tidak akan pernah saya sesali.

Identitas arsitektur yang bertanggung jawab ‘membangun’ kualitas ruang manusiawi akan selalu melekat.

Karena seingat saya waktu di sekolah, “arsitektur lain” yang didekatkan pada saya ini, justru cara berarsitektur sesungguhnya.

Jadi, kok malah jadi lain?

 

 

#nikeveryday

@nikpraw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *