#pelipurlara

Pengalaman berinteraksi dengan orang daerah dan kemudian sepintas mengenali karakternya, adalah suatu yang tidak pernah saya bayangkan. Tak hanya sekedar memiliki kontak daftar nomor handphone, namun saya menjalin komunikasi secara personal satu per satu. Dari menelepon mengenal nada bicaranya, dari meng-sms membaca bahasa kesopanannya. Dan tidak sadar, bahwa saya memiliki kenalan dan dikenal oleh seluruh Indonesia! Entahlah itu sebuah prestasi atau bukan.

Dari interaksi intens itu, saya baru memahami kemampuan personel daerah yang minim sekali inisiatif. ‘Hobi’nya menunggu dan selalu mengharapkan panduan dari Pusat. Mereka selalu menagih contoh untuk kemudian ditiru habis isinya, untuk laporan atau output lainnya. Yang membuat geleng kepala, mereka tiru contoh tersebut sampai pada pemilihan warna, huruf, hingga kata demi katanya!! ckckck

 

Perilaku yang selalu bergantung pada Pusat ada 2 kemungkinan, satu karena kemampuan dan kreatifitas para personilnya yang memang minim. Kemungkinan kedua,  jika ada inisiatif pun tidak diapresiasi -atau parahnya- tidak dianggap, sehingga untuk apa capek-capek memikirkan inisiatif jikalau nanti malah dianggap salah, atau bahkan memperpanjang penyelesaian yang tidak sesuai format yang dicontohkan. Yang ada, kemudian mengambil jalan pintas, menyadur habis yang sudah pasti dianggap ‘benar’.

 

Tidak selalu dibuat geleng kepala, seringkali lucu juga berinteraksi dengan orang daerah itu.

 

Perkenalan saya dengan mereka tidak semua dilakukan secara fisik, melalui pertemuan tatap muka. Hanya sedikit –tidak lebih dari hitungan jari- yang berkesempatan berkenalan langsung, ketika saya berkunjung ke daerah. Walau tidak memiliki banyak kesempatan ke daerah diantara rekan lain, yang patut disyukuri dari pekerjaan ini bahwa saya sudah lebih banyak bisa melihat luar Jakarta dari pekerjaan sebelumnya.

 

Lucunya, orang daerah yang berkomunikasi intens dengan saya selalu menitipkan salamnya pada saya melalui rekan yang sedang berkunjung ke daerah yang bersangkutan. Rasanya senang, ketika mendapat kabar titipan salam itu.

 

Kejadian lain, jika pada suatu acara di Jakarta, saya secara kebetulan harus bertemu dengan mereka, respon yang kebanyakan muncul, “Oh ini toh yang sering telpon-telponan”. Atau mereka yang mencari saya melalui clue nama yang selalu kami sebut saat berkomunikasi, selalu saja ditanggapi “ohh, ini toh yang sering sms dan email-emailan…”.

Saya hanya bisa tersenyum-nyengir:D

Ibaratnya mungkin, nama saya saja yang dikenal dimana-mana, bayangan wajah saya terserah pada benak masing-masing.

 

Tapi justru itulah pelipur lara saya, ketika berkutat sendiri berhadapan dengan orang daerah. Sapaan-sapaan hangat, pada awal telpon ketika kami sudah saling berinteraksi intens untuk sekedar menanyakan kabar, atau ucapan “kapan main ke daerah?” cukup membuat hati tersenyum sendiri.

 

#nikeveryday

@nikpraw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *