mampang-17jan

Hari ini Jakarta diguyur hujan sejak dini hari yang juga tak kunjung reda sampai sekarang.

08:30 AM, di dalam TransJakarta (TJ) JTM-086 posisi di Buncit.

Saya naik dari SMK 57, setelah ‘tertolak’ di Halte Departemen Pertanian (Deptan). Seperti biasa, saya berniat naik TJ dari Halte Deptan. Namun terlihat ada yang tidak biasa di depan loketnya. Di muka loket Deptan, ada gerombolan calon penumpang mengerubungi seorang petugas TJ. Sependengaran saya, petugas mengumumkan operasional TJ yang terganggu untuk Koridor 6 itu (Ragunan-Dukuh Atas) yang membuat beberapa calon penumpang berdiri bimbang di mulut Halte. Banyak yang berusaha memastikan kepada petugas apakah mereka bisa mencapai tujuan dengan operasional TJ yang ada. Tampaknya sang petugas makin membuat calon penumpang ragu, sehingga tidak banyak yang kemudian membeli tiket.

Tapi saya tidak terlalu paham juga, apa yang sebenarnya terjadi. Pasti memang tidak jauh tentang hujan yang tak kunjung berhenti sehingga terjadi kemacetan parah dimana-mana. Saya yang biasa mencapai Halte Deptan hanya 15 menit, kali itu menghabiskan waktu hingga 1 jam.

Saya tidak juga berusaha mengorek informasi kepada petugas tentang rute perjalanan saya, melihat petugas perempuan itu pun sudah dibuat repot oleh orang-orang yang mengerubunginya. Saya yakin saja untuk membeli tiket setelah menguping pernyataan sang petugas, ”kalau mau tetap coba, coba saja…”

Masuk ke dalam halte, tidak ada antrian yang terlalu panjang, cukup melegakan. Tapi tampak sebuah TJ tanpa penumpang mogok di muka pintu Halte di jalur ke arah Buncit sehingga penumpang diarahkan naik dulu ke arah Ragunan untuk ikut memutar.

5 menit berlalu, tidak ada tanda-tanda kedatangan TJ. Sementara saya melihat antrian kendaraan yang sangat panjang tidak berujung di semua arah dari dan ke Traffic Light (TL) Deptan.

Pertanda tidak baik…

Saya memutuskan keluar dari Halte Deptan, satu tiket terbuang percuma, dan melanjutkan perjalanan berjalan kaki ke Halte SMK 57, berharap penumpang ke arah Buncit bisa terangkut di sana.

Namun saya lemas, ketika sampai di depan loket SMK 57, loketnya tutup dilengkapi dengan tulisan “BANJIR, BUSWAY LAMA!!” sementara lalu lintas di kanan-kiri jalan tidak juga memberikan harapan, macet total!!

Saya hanya bisa duduk, menanti inspirasi datang membawa petunjuk apa yang saya harus lakukan. Saat itu sudah terdengar banyak pekerja yang memutuskan “balik kanan” pulang kembali ke rumah karena perjalanan yang terhambat banjir sampai pada isu penetapan cuti bersama oleh Jokowi.

Tidak sampai 10 menit saya duduk menanti ‘wangsit’, loket dibuka. Dan tidak begitu lama, TJ kosong datang menjemput kami, penumpang dari SMK 57. Cukup melegakan dan amat bersyukur, tidak perlu energi untuk berdesakan. Namun tidak juga biasa, TJ ini tidak mengangkut penumpang dari halte-halte setelahnya, terus melaju di halte Jatipadang, Pejaten, dan terus setelahnya, padahal tampak ada antrian penumpang yang menunggu.

Ada apa ya?

Saya tidak kunjung mendapatkan informasi yang jelas tentang apa yang terjadi. Saya berdiri di bagian belakang bus hanya bisa melihat kesibukan di bagian depan, dekat sopir, tampak ada beberapa petugas yang sibuk berkoordinasi tentang kondisi lalu lintas TJ. Penumpang di depan saya pun tampak tidak memahami kondisi, kebanyakan dari mereka sedang bertelepon saling mengabarkan posisi masing-masing yang belum juga sampai di kantor.

Sampai di daerah Duren Tiga, kecepatan JTM-086, TJ yang saya naiki menurun perlahan, dan lajunya hanya bergerak sedikit demi sedikit. Petugas masih saja tampak berkasak-kusuk, tidak bisa memastikan dimana TJ ini sanggup menempuh rute terjauh, yang sudah jelas mereka tidak bisa sampai pada tujuan akhir Dukuh Atas.

Keadaan semakin menunjukkan tanda-tanda kefrustasian. Laju kendaraan hampir sama dengan nol. Semua kendaraan diam memenuhi ruas jalan. Setiap kali papasan dengan TJ dari arah berlawanan selalu diiringi update informasi tentang situasi daerah Kuningan dan sekitarnya, dan dapat disimpulkan bahwa lajur busway akan mentok di kisaran Halte GOR Sumantri. Belum juga mendekati Mampang setelah hampir satu jam berada di ruas Duren Tiga menuju TL Mampang, petugas pemantau situasi yang berada di TJ saya mengumumkan TJ ini hanya akan sampai Halte Kuningan Timur, 3 halte sebelum GOR Sumantri. Tingkat kefrustasian tampaknya telah meningkat hanya dalam hitungan menit.

Sekitar pukul 10.00 sampai di halte Mampang, dimana saya memutuskan untuk menghentikan perjalanan dengan TJ, berharap bisa memecahkan kefrustasian yang terjadi tanpa juga tahu apa yang harus dilakukan setelah ini. Saya hanya ingat satu titik ‘cerah’ di dekat situ, dimana saya bisa diam produktif daripada diam mati gaya di tengah kebuntuan perjalanan ini.

Secangkir hot chocolate, colokan listrik, dan internet nirkabel adalah pelipur lara saya saat itu.  Misi utama saya adalah mengirimkan bahan rapat mingguan yang seharusnya dibahas pagi ini via email. Paling tidak, jikalau tidak bisa melanjutkan perjalanan, saya bisa sedikit tenang. Sembari memikirkan pilihan opsi untuk melanjutkan perjalanan, saya bisa ‘menikmati’ peristiwa ‘dramatis’ ini sejenak. Breaking news yang ditayangkan di TV tempat saya ngaso ini semakin menunjukkan keadaan dramatis yang sedang terjadi di kota metropolitan ini, JAKARTA (HAMPIR) LUMPUH TOTAL.

Sepanjang perjalanan tadi, saya berpikir, betapa banyak kesia-siaan yang ada dalam perjalanan ini, terlalu banyak tenaga, waktu, uang, energi positif  yang terbuang percuma. Pagi yang seharusnya waktu terproduktif hanya diisi dengan kefrustasian di jalan. Keadaan yang semakin memperkuat mimpi saya untuk bekerja dari rumah, #homework.

Yang disyukuri, saya beruntung saat ini punya pilihan untuk mendekat pada mimpi itu. Paling tidak, saya tidak harus melakukan perjalanan melelahkan nan sia-sia itu dalam 5 hari kerja. Walaupun keadaannya belum seperti apa yang saya mimpikan seutuhnya. Dan hari ini, di saat Jakarta sedang dalam situasi darurat, sayangnya saya tidak punya pilihan, selain terpaksa menikmati perjalanan dalam kesia-siaan.

Pada sore hari kisaran pukul 17.00, waktu dimana perjalanan juga menjadi momok menakutkan di Jakarta, saya ditunjukkan berkah tersembunyi di balik situasi darurat ini. Betapa momok itu, seperti terhapus sementara dari kamus Jakarta. Jalanan lengang, lalu lintas lancar, waktu tempuh perjalanan berkurang hingga 50%!!

Mungkin ini yang disebut kota ideal,

ketika melakukan perjalanan bukanlah sesuatu yang menakutkan,

ketika warga yang berada di jalan tidak lebih banyak dari yang berada di tempat tinggal masing-masing,

dan ketika warga mampu memiliki kebijaksanaan untuk mengevaluasi kembali rutinitas perjalanannya.

#nikeveryday

@nikpraw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *