Saya tidak punya hasrat untuk berprofesi layaknya pegawai kantoran.

Memiliki rutinitas yang sama setiap harinya, memiliki jam kerja yang mengikat, dan paling menyebalkan adalah harus bersaing-berdesakan dengan jutaan pekerja lain di jalanan kota. Saya berpikir, rasanya mustahil mengurai kemacetan Jakarta, jika jumlah warganya masih 9-12 jutaan, dimana hampir semua kaum pekerjanya memiliki rutinitas kantoran yang sama. Parahnya lagi, kebanyakan dari mereka tinggal tersingkir di pinggiran kota dan tepat pada waktu yang sama sebelum matahari terbit, berbondong-bondonglah kaum ini ke pusat kota. Tidak logis, jika mengangankan Jakarta bebas macet.

Mengharapkan pemerintah membangun sistem transportasi massal yang baik?

Mengangankan pemerintah menyediakan properti terjangkau di pusat kota?

Atau memimpikan mata pencaharian di pinggir kota?

Saya tidak berharap terlalu banyak untuk itu. Bukan berarti pesimis.

Tapi pantaskah kita berharap perubahan besar terjadi karena ketergantungan dari peran orang lain?

Mungkin butuh 10 tahun bagi pemerintah untuk membangun sistem transportasi massal yang baik, menyediakan properti terjangkau di pusat kota, dan kesediaan pemerintah untuk membagi sumber perekonomian ke pinggir Jakarta. Itu masih mungkin.

Lantas, relakah kehidupan warga Jakarta habis di perjalanan sepanjang 10 tahun?

Relakah kualitas hidup terus menurun dalam 1 dekade? Polusi udara, biaya perjalanan, stress, tidak produktif?

Saya teramat sangat tidak rela!!

Saat ini saya pun tidak rela, ketika harus menghabiskan 4 jam untuk melakukan perjalanan pulang pergi dari dan ke pusat kota.

Ketika di rumah, dalam 4 jam saya bisa menuntaskan satu sampai dua macam pekerjaan sekaligus.

Ketika di rumah, saya punya lebih banyak waktu untuk membaca dan menulis.

Intinya, ketika di rumah, saya merasa bisa jauh lebih produktif!!

Dan apa yang saya rasakan ternyata sejalan dengan hasil penelitian ilmiah.

http://web.hbr.org/email/archive/dailystat.php?date=011713

Menurut E.Glenn Dutcer, peneliti dari University of Innsbruck Austria, working remotely menaikkan produktifitas dari 11% hingga 20% khususnya untuk para pekerja kreatif.

Saya selalu berhasrat untuk berkarya, tidak sekedar bekerja. Saya selalu berusaha menghindari rutinitas.

Saya lebih senang untuk berkutat pada kegiatan yang tidak membutuhkan kehadiran fisik secara rutin.

Saya lebih senang bekerja di lapangan atau memikirkan solusi di meja, daripada menghadiri  rapat-rapat rutin berdurasi panjang.

Saya lebih senang menulis, membaca, dan mencoret-coret kertas, daripada berbicara.

 

Saya sedang mendekati mimpi untuk berkarya dalam bidang komunitas-lingkungan-perkotaan secara independen.

Saya masih harus banyak belajar, menyediakan banyak waktu untuk memperkaya ilmu, pengetahuan, dan pengalaman. Tentu bukanlah pilihan untuk mengikat diri berkantor dan menghabiskan waktu dalam kemacetan Jakarta.

 

Saya meyakini untuk membangunnya dari diri sendiri, tidak bergantung pada orang lain.

Saya memiliki kebebasan untuk hidup berkualitas; bebas polusi udara-bebas macet-bebas stress-bebas banjir-bebas biaya BBM transportasi.

Saya memilih untuk menghabiskan waktu untuk produktif; banyak melihat-membaca-menulis-berolahraga, dsb, tidak punya waktu untuk kemacetan!!

 

Saya bermimpi untuk membangun sebuah tim solid dari beragam latar belakang untuk menghasilkan berbagai karya.

Saya tidak bermimpi punya kantor, namun berangan membangun sebuah co-working space. Tempat terbuka dimana semua orang dari berbagai latar belakang bertemu, belajar, bekerja, dan berkarya bersama.

Yang saya tahu, inisiasi co-working sudah mulai dibangun di Jakarta, namun belum terjangkau bagi saya, (sejujurnya) dari segi biaya. Saya bermimpi untuk membangun versi yang lebih terjangkau, lebih terbuka oleh beragam kalangan dan kegiatan, lebih keren lagi, saya bisa menjangkaunya dengan bersepeda!!

 

Sementara ini, saya memfokuskan untuk membangun diri sendiri. Saya harus menutup mata dan telinga untuk hal-hal yang tidak penting. Saya perlu menyadari bahwa itulah resiko pilihan yang (mungkin) tidak biasa dalam lingkungan kebanyakan.

Semoga saya dikuatkan untuk tidak hanya ikut arus yang biasa-biasa saja. Misi utama saya agar selalu bisa bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya orang.

 

Sekali lagi,

saya tidak berhasrat untuk menjadi pegawai kantoran, mengejar gaji bulanan, memiliki kegiatan rutin sehari-hari, terikat pada aturan institusi pekerjaan.

saya hanya bersemangat untuk berkarya dengan bebas, bebas mengatur segalanya sendiri.

tidak harus bermacet-macetan, hanya bisa libur sabtu-minggu.

indahnya bisa menentang arus; bisa bekerja di rumah, produktif dari kafe, berselimutkan koneksi internet tingkat tinggi, membaca dan menulis di tengah udara bersih ditemani hot chocolate, menikmati lengangnya nonton bioskop di saat banyak orang berkutat di kantor,

dan tentunya masih banyak kenikmatan lain karena kebebasan menentang aruss..

 

 

#nikeveryday

@nikpraw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *