Saya hanya mau melanjutkan kuliah. Titik!!

Tidak ada lagi yang saya inginkan selain itu.

 

Kini, ‘pekerjaan utama’ saya adalah menyiapkan dan mengisi beragam aplikasi persyaratan kuliah.

Pekerjaan yang seharusnya diutamakan, malah saya singkirkan jauh-jauh, selesaikan secepatnya saja. Tidak lagi ingin menghabiskan energi, pikiran, apalagi hati ini terlalu banyak untuk pekerjaan, dimana :

saya merasa tidak lagi bisa berkembang,

saya terlalu muak dengan lingkungan dan tuntutan pekerjaan,

dan saya bosan dengan rutinitas pekerjaan.

 

Saya tidak bisa bersabar, ingin segera mendapat kepastian dimana saya bisa menimba S2 secepatnya.

Ternyata, melanjutkan kuliah tidak cukup hanya sekedar niat. Butuh ketekunan, usaha keras, menguras energi, waktu, dan biaya, tentunya.

Mungkin energi terbesar habis untuk mengenal diri sendiri, proses yang tidak akan ada habisnya.

Apa yang sebenarnya saya inginkan? Mengapa harus ‘ngotot’ untuk sekolah?

Oke, harus diakui bahwa sekarang sedang menggeluti apa yang menjadi minat saya, atau paling tidak mendekatinya :

KOTA – LINGKUNGAN – ALAM – RUANG – PARTISIPASI – MASYARAKAT – KOMUNITAS – SOSIAL

Dalam pergelutan ini, saya sering merasakan adanya letupan, angan yang jauh meninggi, gairah dan emosi bergejolak, ide-ide berloncatan.

Maka, rasanya tidak ada yang salah dengan pilihan bidang pekerjaan saya. Namun sejujurnya, saya berhadapan dengan tembok besar yang membuat saya berjalan di tempat. Setahun, saya bisa melesat dengan cepat, tapi lalu stagnan, tidak berkembang. Saya mengerjakan sesuatu yang berulang, menjadi rutin.

Tapi, perlu ditekankan, ini bukan tanda untuk resign. Justru saya berminat untuk menggelutinya lebih dalam di bidang ini.

 

Memiliki data berlimpah, pengalaman yang relevan dengan minat, lingkungan yang sangat mendukung, dan tentunya letupan ide.

Saya sudah siap dengan spesifikasi pilihan minat. Saatnya lanjut sekolah!!

I can’t wait to grow intellectually!!

 

Dimana saya bisa menggali pengetahuan lebih dalam dan terstruktur,

mengeksplor dengan banyak referensi,

mengulik pemikiran dan ide dari beragam sumber,

menempa diri dalam lingkungan akademik dimana diri sendiri yang menentukan segalanya.

 

Biarlah saya menepi dari hinggar-bingar profesionalisme dan karir.

Tidak ada lagi perintah dari atas, kanan, dan kiri!

 

Ini adalah sebuah mimpi lama, mimpi yang dibangun bersama dengan Bapak.

Berkali saya terhenti dalam mengejar mimpi ini, berkali pula saya mencoba lagi.

Tak terhitung rasanya kecewa, sakit hati, putus asa, gemas setengah mati.

Seringkali tersendat, lebih sering padat merayap dan kemudian macet di pikiran dan buntu lagi!

 

Kini, tak ada lagi yang bisa menghalangi saya.

Kali ini saya mencoba beragam cara, sekuat tenaga, mengusahakan yang terbaik dari apa yang saya miliki

Mendobrak paham perfeksionis dan mengacuhkan banyak pertimbangan.

 

Biarkan saya berkelana jauh,

merasakan lingkungan baru,

belajar banyak hal baru,

menantang ketakutan,

meninggalkan kenyamanan dekat dengan keluarga,

menemukan keluarga baru,

untuk kembali menemukan diri sendiri dalam versi yang lebih baik lagi dan bisa bermanfaat untuk lebih banyak orang.

 

Walaupun dalam kejauhan belum juga terlihat setitik terang harapan.

Tapi saya merasa yakin -suatu saat- saya pasti berhasil menggapai mimpi itu.

 

Entah kapan, cepat atau (janganlah) lambat…

 

Walau sekali lagi, malah jalan buntu yang terlihat terang.

Sore ini ada email : we regret to inform you that your application has not been successful on this occasion.

 

Oh, no!!

tidak bisa tidak kecewa dan sakit hati (lagi)!

 

 

#nikeveryday

@nikpraw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *