#The Fault In Our Stars

 

Film bagus menurutmu seperti apa?

Film yang bisa menyentuh emosi saya, kesannya tertinggal dalam benak hingga menyisakan bahan renungan setelahnya. Tidak sampai harus menitikkan air mata untuk menjadi tanda bahwa suatu film telah menyentuh emosi, cukuplah bisa menumbuhkan pikiran positif setelah menonton. Dari situ, genre drama seringkali menjadi pilihan saya karena kedalaman emosi dari tiap karakter lebih terlihat kentara, sekaligus tergalinya sisi kemanusiaan dari peran maupun cerita.

Hari ini, film “The Fault in Our Stars” telah menyentuh saya lumayan dalam. Beberapa kali air mata berlinang dan menetes pada momen-momen ekspresi ketulusan dan ketakutan orang-orang yang saling mencintai, ketika salah satu (atau lebih) dari mereka sedang berada dekat dengan ajal.

Film ini bercerita tentang cinta dua sejoli penderita kanker yang  berawal dari interaksi dalam suatu kelompok dukungan para penderita penyakit akut. Yang menarik, bukan kesedihan yang ditonjolkan dalam film ini, melainkan semangat positif yang ditebarkan baik kepada para penderita, dan orang-orang disekitarnya.

Orang yang dekat sekali dengan maut —akibat tidak berfungsinya sebagai dari organ vital dari tubuh— ‘diperlakukan’ seperti orang normal-sehat yang tetap harus menjalani dan menggapai mimpi dengan semangat dan cinta. Setipis apapun harapan hidup itu, bukan alasan bagi mereka untuk meratapi detik-detik menjelang ajal. Karena hanya itu satu-satunya cara mereka menikmati hidup yang cuma sebentar.

Betapa saya kagum dengan karakter Gus (Augustus Waters), peran utama lelaki yang telah kehilangan setengah tungkai kakinya akibat kanker tulang, namun tetap lincah menikmati hidup dengan kaki palsu seperti tak ada yang salah dalam hidupnya. Ia menjadi pemompa semangat bagi Hazel —kekasih Gus, perempuan penderita kanker tyroid dengan paru-paru yang tinggal berfungsi setengah— dan Isaac —sohib Gus, penderita kanker mata yang kehilangan seluruh penglihatannya—.

Semangat pula yang dipancarkan para orangtua Gus dan Hazel dalam memperlakukan anak-anak mereka untuk hidup seperti biasa; banyak berteman dan melakukan aktivitas yang mereka sukai, walaupun tahu betapa kritisnya penyakit yang sedang diderita.

Gus (G) to Hazel (H) : What’s your story?

H : I was diagnosed when I was 13…

G : No no no, Your real story. Your hobbies, your passion, your weirdness…

H : I …am… quite unextraordinary.

G : I reject that.

 

Bisa terbayangkan, betapa depresinya hidup saya (yang sehat dan normal) jika hidup dengan lingkungan pesakitan seperti itu. Tapi kata ‘depresi’ tampaknya telah diamplas habis dalam hidup mereka.

“Terlupakan” adalah ketakutan terbesar Gus sehingga ia akan melakukan apapun untuk bisa diingat orang-orang yang disayanginya. Namun perlahan, ketakutan Gus tersebut membesar karena hidupnya ketahuan tidak lama lagi, sehingga rentan menjadi yang terlupakan. Hazel kemudian bersikeras meyakinkan Gus, bahwa ada sesuatu yang telah ditanamkan mendalam oleh Gus yang membuatnya tidak mungkin mudah dilupakan meski kehidupan telah sirna, yakni Cinta.

H : Some infinities are bigger than other infinities. A writer we used to like taught us that. There are days, many of them, when I resent the size of my unbound set. I want more numbers than I’m likely to get, and God, I want more numbers for Augustus Waters than he got. But, Gus, my love, I cannot tell you how thankful I am for our little infinity. I wouldn’t trade it for the world. You gave me a forever within the numbered days, and I’m grateful.

 

Satu pembelajaran berharga tentang optimisme, harapan, cinta dan rasa bersyukur pada kehidupan yang telah diberikan sesingkat apapun itu.

 

Kebetulan berkorelasi, saya sedang membaca buku #SHARING berisi tentang kehidupan Handry Santiago —CEO GE Indonesia (General Electric Indonesia)— yang telah menghabiskan 25 tahun hidup di kursi roda akibat serangan kanker getah bening pada usia 17 tahun. Dari proses menghadapi penyakit akut itu, Handry menyimpulkan tidak ada cara lain, selain menjalani dan menikmati saja semua prosesnya. Ia tak henti menertawakan semua proses yang tidak mudah itu. Bagaimana Handry bisa-bisanya melahap nasi padang dan gulai babat, yang dibawakan teman-temannya sejam sebelum infus kemoterapi habis. Walaupun kemudian merasakan muntah-muntah, Handry tetap bisa makan dengan nikmat, bahkan jadi bahan taruhan berapa lama ia bisa menahan muntah setelah melahap nasi.  Belum selesai urusan menikmati makanan, begitu urusan muntah-muntah beres —dalam kondisi badan masih sangat tidak enak— Handry “diculik” teman-temannya untuk hangout ke daerah Sabang-Taman Lawang dan baru kembali ke rumah sakit pukul 2 dini hari untuk melanjutkan perawatan inap!

 

Memang, tak ada alasan untuk meratapi kesedihan hanya karena suatu cobaan atau ‘sedikit’ teguran dari Tuhan, jika dibandingkan mereka yang diberi ‘anugerah’ penyakit yang merenggut kegembiraan kehidupan ‘normal’ pada umumnya atau bahkan mereka yang tidak sampai mencapai umur kita saat ini.

Dan penting, untuk selalu menyebarkan cinta dan kebahagiaan kepada siapapun, menikmati anugerah kehidupan yang telah diberikan dengan bersukacita melakukan apapun yang disukai.

Bersyukurlah pada kehidupanmu saat ini, apapun itu!!!

 

Like Gus said, “The world is not a wish-granting factory…You don’t have a choice if you get hurt in this world, but you do have some say in who hurts you…”

I want to be like Gus who thinks he like a roller-coaster that only goes up.

If got pain? “That’s the thing about pain. It demands to be felt.”

 

 

#nikeveryday

@nikpraw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *