Besok, 9 Juli 2014, Indonesia akan berpesta….Pesta Demokrasi!!

Indonesia akan menentukan sejarahnya sendiri.

Saya bersyukur bisa merasakan euforia demokrasi 2014 dengan dua sosok yang menjadi panglima tertingginya. Dua sosok dengan dua karakter yang sangat berbeda.

Berbagai dukungan dilontarkan secara frontal dari masing-masing kubu, baru kali ini saya rasakan. Dua kelompok yang saling membela panglimanya dengan berbagai cara, tak jarang melibatkan tarik-menarik urat, karena emosi turut hadir di sana.

Semakin mendekati hari H, perbincangan politik di lingkungan saya secara implisit semakin dihindari. Kami menghindari friksi tak perlu yang dapat merusak hubungan pertemanan. Pada beberapa momen, beberapa minggu lalu, memang sempat terjadi perdebatan panas walau hanya terjadi di forum internal dunia maya, saat masing-masing dari kami punya jagoan yang berbeda.

Satu sisi saya resah, mengapa perdebatan itu begitu sengitnya. Pada sisi lain, saya gembira, karena pada beberapa perbincangan, diskusi mengarah pada isu substantif tentang Indonesia, tentang kebijakan pemerintahan, tentang birokrasi, dll. Oh, kami bukan golongan anak muda yang buta Indonesia, ternyata. Namun di lain perbincangan pula, terlontar opini-opini tak berdasar yang memojokkan lawan masing-masing. Di lingkungan saya, memang tak terdengar cemoohan yang memerahkan telinga dan menaikkan pitam pada setiap pilihan yang berbeda, namun sedikit menengok media sosial, ejekan kasar bertaburan dengan jelasnya. Dalam bahasa media, Indonesia telah terbelah dua.

Namun saya percaya, Indonesia tidak serapuh itu. Indonesia didirikan oleh semangat kerelawanan yang kuat. Mereka bergerilya dengan sangat militan, tanpa pamrih. Mereka merapat semakin kokoh, ketika ada badai menerjang.

Semangat kerelawanan yang luar biasa mengagumkan, saya rasakan kini.

People PowerBagi saya, mereka bukan sekedar mendukung satu sosok tertentu, tapi mereka –hakikatnya- menyuarakan cita-cita perubahan untuk diri mereka sendiri. Mereka mungkin telah lama terkekang begitu lama, namun baru kali ini momen itu hadir. Energi mereka menjalar begitu hebatnya. Saya yakin, mereka -para relawan yang mendukung dengan tulus- tidak menginginkan Indonesia terpecah belah.

Masing-masing dari mereka pasti memilih satu hal, perubahan. Indonesia akan berubah? Presidennya berubah, iya. Tapi kondisi secara umum juga berubah? Mungkin belum tentu.

Perubahan bukanlah proses singkat. Dan perubahan hanya akan terjadi, jika berawal dari diri kita masing-masing. Perubahan tidak akan hadir selama masih menunjuk orang lain untuk melakukan sesuatu. Jadi, lakukan sesuatu pada esok hari, dengan menggunakan hak pilih kita untuk sebuah awal dari perubahan.

Setelahnya itu, saya hanya bisa berdoa, semoga Indonesia selalu dilimpahkan kedamaian untuk bisa menghormati dan menghargai perbedaan. Tak ada dari kita yang dilahirkan sama. Dalam perbedaan, ada hikmah dan anugrah yang disiapkan Tuhan agar bisa disyukuri. Walaupun perlu energi lebih untuk bisa memahami perbedaan, tapi saya justru dapat pembelajaran yang lebih banyak. Bagaimana saya selalu menginginkan suatu lingkungan yang berbeda; berkenalan-berdiskusi-belajar dari orang-orang yang berbeda latar belakang untuk dapat mengembangkan pikiran. Tidak ada yang bisa disalahkan dari perbedaan.

Apapun yang terjadi, kita tetap bersaudara, lahir dari ibu yang sama, Ibu Pertiwi, Indonesia Raya. Mari kita rayakan pesta ini dengan tetap tersenyum dan bergembira.

Setelah pesta usai, janganlah bergantung pada sang pemenang untuk bisa menciptakan perubahan. Kembali bekerja dari tempat kita masing-masing dengan selalu menyebarkan energi positif dan inspirasi, niscaya perubahan akan hadir. Namun jangan tanya kapan tepatnya.

 

#nikeveryday

@nikpraw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *