2014 adalah tahun yang menarik bagi saya.

Karena tahun politik? Mungkin.

Saya lupa kapan dan mengapa bisa tertarik pada politik.

Kata banyak orang, politik itu kotor, menjijikkan, dan memusingkan. Mungkin benar adanya.

Tapi ketertarikan khusus saya pada personality, membuat saya -secara tidak sadar dan otomatis- mengikuti berita-berita politik. Karena dalam politik, personality terlihat berserakan meminta perhatian saya melalui sosok-sosok yang muncul dengan emblem ‘pengurus kepentingan rakyat atau orang banyak’. Entah emblem yang tersemat dalam jabatan politik, seperti Presiden, Menteri, atau Pengurus Partai Politik, atau emblem yang tak terlihat pada aktivis, relawan yang bekerja untuk kepentingan masyarakat banyak atau inspirator-inspirator yang bekerja dalam sunyi di desa-desa terpencil, menempuh berkilo meter dari rumah untuk mengajar anak-anak tak berseragam, membuka rumah asuh bagi kalangan tidak mampu, atau sekedar memberi nasi bungkus gratis bagi pengemis jalanan. Suka atau tidak suka, para aktivis, relawan, maupun inspirator itu telah terjun dalam dunia politik, dunia orang-orang yang bekerja untuk kepentingan orang banyak, itu menurut pandangan saya. Sumber daya kita tentu terbatas -baik energi, waktu, dan dana- tapi bagaimana bisa memberi pengaruh yang besar bagi orang banyak, disitulah politik menunjukkan taringnya.

Maka politik tergantung pada pelakunya, personality-nya. Ketika pelakunya bisa memberi dampak konkret bagi sebanyak-banyaknya orang, politik bisa menjadi baik. Namun ketika sebaliknya, ketika mereka memakai topeng politik yang kepentingan kelompok atau namanya sendiri, disitulah mengapa politik disebut kotor nan menjijikkan.

Inspirator saya selalu berasal dari dunia politik tadi, mereka yang bekerja atau menghabiskan waktu dan energinya untuk kepentingan orang banyak, dari beragam bidang.

Tahun ini, kita diberi diberi hak istimewa untuk bisa memilih jabatan politik yang mengemban emblem resmi ‘atas nama rakyat Indonesia’. Ini bukan tahun pertama saya menunaikan hak istimewa tersebut, tapi baru tahun ini saya merasakan antusiasme yang begitu tinggi. Saya menyediakan waktu khusus untuk melakukan riset-riset dalam memilih caleg pada pileg April lalu, membuka banyak referensi, meneliti rekam jejak.

Saya baru kali ini merasa sangat yakin dengan pilihan saya, karena tahu benar siapa dia. Menjelang hari-H, saya sempat berpindah pilihan caleg DPR, hanya karena saya tidak respek dengan partai pengusung yang memiliki elektabilitas yang cukup tinggi hingga berpotensi besar mengusung calon presiden. Saya sangat tidak ingin mencoblosnya yang secara otomatis menaikkan perolehan suara untuk bisa mengusung calon presiden. Mungkin banyak yang berpikir, satu suara tidak mungkin dapat berpengaruh segitu besarnya. Tapi ketika hati saya mengatakan ragu, selesai sudah.  Saya kemudian meriset calon lain, walaupun kansnya kecil untuk lolos, dari partai tidak populer pula. Lebih nyaman begitu.

Kemudian 2 kandidat presiden muncul, dimana salah satunya diusung partai yang saya hindari. Dan saya sangat bangga, pada waktu itu tidak jadi mencoblos calegnya. Walau caleg tersebut dinyatakan lolos ke senayan, sementara caleg saya gagal dalam perolehan suara. Tidak ada beban moral, adalah poin pentingnya!

Memilih satu dari dua kandidat presiden jauh lebih mudah, jika dasarnya adalah tidak ada beban moral. Jauh lebih mudah karena saya merasa tidak perlu repot meneliti detail visi-misinya. Dari pengalaman dan jejak yang ditinggalkan, dibandingkan dengan kandidat lain, sudah cukup mewakili nilai dan karakter yang diembannya. Visi-Misi boleh saja serupa, tapi nilai dan karakter dari kedua kandidat jauh berbeda. Visi-Misi berbicara soal masa depan yang belum tentu terjamin, tapi nilai dan karakter adalah soal masa lalu yang tidak bisa dipungkiri. Cara seseorang menghadapi tantangan kedepan sangat dipengaruhi oleh nilai dan karakternya

Baru kali ini, saya sangat bangga pada pilihan presiden saya. Capres yang memiliki rekam jejak cukup mengesankan. Ia yang mengemban misi kemanusiaan, misi pengembangan manusia menjadi yang utama, melampaui sumber daya alam yang bisa habis dikuras tak berjejak. Saya tahu pengembangan manusia memerlukan waktu yang sangat lama, mungkin tidak terlihat hanya dalam 5 tahun. Maka, banyak orang menganggap misi itu mustahil. Tapi selamanya bisa mungkin saja, jika ada yang mulai. Ia memulai dengan menilik kembali efektifitas sistem pendidikan dalam pengembangan manusia. Saya percaya pendidikan yang mampu mengubah kualitas hidup seseorang.

Ia yang selalu diasumsikan dengan terobosan. Ia mengeluarkan moratorium   pembangunan mal yang bisa menjadi pemasukan deras bagi penguasa. Ia menolak adanya koalisi bagi-bagi kekuasaan antar partai, yang 5 tahun belakang memuakkan. Menjadikan rakyat sekedar mesin penghasil suara, setelah itu mereka biarkan kepercayaan itu dirusak.

Ini pengalaman pribadi. Pada suatu tugas, saya meriset neraca keuangan APBD kota-kota di Indonesia. APBD beberapa kota saya kulik, hasilnya hanya DKI Jakarta yang membuka seluruh informasi keuangannya secara publik dengan lengkap, dari neraca, arus kas, dan hingga laporan realisasi anggarannya dalam web yang termasuk user-friendly. Baru kali itu saya sadar bahwa tranparansi benar dijalankan hingga mengubah kinerja aparat pemerintahan secara umum. Apakah ini bukan karena pemimpinnya? Come on!!

Ada pula pengalaman ketika saya menjadi panitia Festival Taman Jakarta 2013, dimana ia hadir tanpa protokoler berbelit dan –hebatnya- menolak seremoni pembukaan, padahal antusiasme wartawan yang meliput saat itu sangatlah tinggi. Bagaimana rombongan wartawan berduyun-duyun, menyemut mengikuti posisi sang gubernur. Ia hanya duduk, menikmati pertunjukkan dan berkeliling taman dengan santainya, padahal ruang geraknya juga terbatas karena dikepung rombongan wartawan-wartawan itu. Ya, berarti ia memandang pentingnya menyelamatkan keberadaan taman ditengah himpitan pembangunan kota yang begitu masifnya.

Yang menjadi semakin menarik, belakangan muncul banyak dukungan dari kalangan seniman kepadanya. Menurut saya, seniman adalah salah satu kelompok yang bekerja dengan kejujuran. Mereka tidak punya kepentingan lain selain berkarya dengan hati. Jadi ketika menyatakan dukungannya pada seseorang, yakinlah bahwa itu dari keinginan diri mereka sendiri. Lihatlah kemana dukungan Glenn Fredly, Tompi, Yovie Widianto, Erwin Gutawa, Andien, Afgan, Indra Aziz -para inspirator saya dalam bermusik- berpihak.

Saya percaya dengan pengaruh lingkungan. Orang yang berintegritas, akan berusaha mendekat pada lingkungan berintegritas. Orang baik akan berteman dengan orang baik pula. Untuk mencari kepada siapa dukungan akan diberikan, mudahnya adalah siapa yang didukung oleh orang yang kamu percayai.

Saya percaya pada Anies Baswedan, Yoris Sebastian, Pandji Pragiwaksono, Dewi Lestari, Wishnutama, Rene Soehardono, Mira Lesmana, Joko Anwar.

Mereka yang saya rasa berat untuk menodai cerita inspiratif hidup mereka dengan menyatakan dukungan kepada orang yang salah.

Semoga saya pun tidak salah untuk mendukung orang yang akan membawa Indonesia dengan kesederhanaan, kesederhanaan dan keberagamannya, Ia memang tidak sempurna. Maka ia tidak akan dibiarkan untuk bekerja sendiri. Kami, para pendukung Bapak, rasanya siap untuk bekerja bersama untuk Indonesia. Karena kami percaya, Indonesia terlalu besar untuk dikerjakan oleh seorang presiden. Selama Bapak percaya pada kami, mari kira berkolaborasi.

Saya akan selalu ingat bahwa menjadi Presiden dari kesederhanaan bukanlah mustahil. Tidak perlu sekolah tinggi, bermewah-mewah, hingga keharusan mengecap kehidupan luar negeri untuk bisa menjadi Presiden. Milikilah kesederhanaan yang pantas diteladani. Walau hartanya berlebihan, ia memilih untuk cukup sederhana saja, padahal ia bisa hidup lebih dari apa yang kini ia jalani. Ia menunjukkan bahwa semua berhak menjadi Presiden dengan modal kejujuran dan kerja keras.

Salam hormat untuk Bapak Jokowi. Saya percayakan suara saya untuk Bapak agar kita bisa berkolaborasi mewujudkan Indonesia yang beragam dan kreatif. Juga, karena saya sungguh tidak rela hak istimewa untuk menentukan wakil rakyat direnggut oleh sang lawan melalui pernyataannya bahwa pemilihan langsung tidak sesuai dengan kebudayaan Indonesia:((

 

 

#nikeveryday

@nikpraw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *