Musik adalah salah satu hal berpengaruh dalam hidup saya.

Musik bekerja dalam rasa, tak terlihat, tak juga berbentuk, tersamarkan.

Hebatnya, musik bisa menentukan rasa, sampai melesatkan imajinasi dalam benak.

Saya mampu membayangkan sebuah situasi dan rasa dengan mendengarkan musik.

Bahan dasar khayalan saya adalah musik.

 

Musik bagi saya, lebih dari sekedar hiburan. Ketika mendengar musik, saya hampir tidak bisa menyambinya dengan pekerjaan lain. Lebih sering pekerjaan inti justru terhenti, karena saya fokus mendengar apa yang ada dalam musik tersebut. Saya penikmat musik yang khikmat, tak bisa diganggu dengan kegiatan lain, bahkan mengobrol sekali pun.

Meraba harmoni suara alat musik, rasa vokal, aransemen, nada, nuansa, dan interpretasi.

Satu yang saya tidak terlalu pedulikan, yakni Lirik. Banyak orang terbuai karena lirik, bagaikan banyaknya alasan jatuh cinta pada seseorang karena penampilan. Saya justru jatuh cinta pada lagu karena musiknya, bukan lirik. Semisal, Glenn Fredly menyanyi dangdut sepicisan apapun, jika musiknya oke, saya pasti suka. Jarang pula saya menyukai seorang penyanyi solo semata. Pasti saya mengaguminya ketika tampil bersama bandnya. Ya, saya penikmat pertunjukkan musik live. Maka, saya jauh lebih menikmati meramban situs youtube untuk mencari pertunjukkan live sebuah lagu atau penyanyi, dibandingkan sekedar mendengarnya di iTunes.

 

Saya pemerhati ekspresi, gesture, emosi, crowd, dan aransemen para setiap pertunjukkan live. Rasa setiap pertunjukkan selalu berbeda pada setiap kesempatan pada satu lagu yang sama sekalipun. Ketika saya menyukai sebuah lagu, saya berusaha mencari pertunjukkan livenya, baik dari penyanyi aslinya maupun dari beragam cover version yang ada. Versi album atau video klip tidak pernah memberi kesan mendalam. Bahkan lebih sering terpesona pada sebuah cover version lagu favorit.

 

Namun begitu, saya bukan seorang concert freak, yang selalu hadir dalam konser-konser musik yang entah mengapa belakangan ini nominalnya semakin butuh banyak pertimbangan untuk menukarkannya ke sebuah tiket. Mungkin ada juga peran bisnis pertunjukkan yang semakin banyak dikelola secara independen, sehingga bergantung penuh pada penjualan tiket konser.

Terberkatilah pada pengunggah video-video pertunjukkan dalam youtube. Saya tidak hanya bisa menikmati satu kali musiknya, namun bisa mengulang momen-momen “mahal” sebuah pertunjukkan yakni ekspresi, gesture, dan interaksi crowd-nya.

Dan saya penyuka program-program musik musik live di TV. Zaman MTV masih berkibar, saya fans MTV Unplugged dan MTV Studio. Sekarang, saya penunggu program Music Everywhere di NET dan Jazzy Night di Kompas TV. Dan sekali lagi, youtube yang menjadi pelipur lara, ketika berhalangan hadir di depan TV tepat di jam tayangnya.

Selain program-program itu, saya mencatat dalam ingatan kuat program musik non-regular, seperti live concert atau acara penganugerahan yang biasanya juga terselip penampilan musik. Saat di rumah, telinga saya sensitif pada bebunyian musik dari TV maupun radio yang biasa dinyalakan. Ketika ada suara musik yang saya sukai, saya seketika berlari untuk mendekat, nongkrong di depannya hingga musik usai. Bahkan sekedar iklan yang terdengar seperti program konser atau sejenis di TV pun, saya dengan sigap menyahut ,”apaan tuh?” sambil berlari mencegah seseorang mengganti channel.

Mungkin intuisi saya terhadap musik terbangun seiring saya belajar bermusik secara non-formal. Sekitar 5 tahun mengambil kursus electone dan piano klasik, dan hampir 2 tahun menggauli aliran non-kontemporer, dimana cinta saya tertambah di sana. Cinta yang belum usai, karena jazz mampu mengakomodasi karakter saya namun di sisi lain, sangat sulit ditaklukkan.

Saya bukan orang yang dilahirkan dengan bakat bermusik, dengan telinga sensitif terhadap nada dan improvisasi. Saya perlu waktu berjam-jam, berminggu-minggu untuk mengulik sebuah lagu. Kemampuan improvisasi yang nihil untuk memenuhi permintaan lagu spontan.

Namun intuisi musik saya tak bisa diam ketika suatu melodi menggema.

Masa SMA dan kuliah, intuisi musik saya cukup dipuaskan dengan aktif nge-band. Eksplorasi dalam studio, berharmoni dalam suara, dan belajar berlaku di panggung. Saat di panggung itulah, ada ekspresi yang tak tergambarkan dengan apapun. Adrenalin membahagiakan mengalir deras. Apalagi jika bertemu crowd yang keren, energi itu bisa bertahan berhari-hari tak habis. Musik, saat itu, berperan besar menjadi bahan bakar peningkat kepercayaan diri saya.

Musik sebagai sebuah kebutuhan. Energi yang dihasilkannya tak tergantikan.

 

Tak pernah menakukkan panggung-panggung terkemuka, hanya main di panggung SMA, sekali rekaman program TV untuk sebuah kompetisi band SMA; di level kampus, sekedar berlalu lalang di panggung level jurusan dan fakultas, sekali mencoba pengalaman live recording, dan sekali merasakan track recording. Setelah itu, mati suri.

Namun musik tak lelahnya flirting dengan saya. Saya bisa mengabaikannya dnegan alasan sibuk berkegiatan lain. Tapi sekali waktu saya benar-benar tersiksa, ketika hanya bisa mendengar dengan adrenalin menjadi delusinya. Angan kosong.

Saya bukan tipe solois, apalagi kemampuan yang jauuhhh dari jago. Saya hanya punya hanya mimpi, visi, dan selera. Saya tetap butuh partner bermusik. Hal ini yang selalu jadi alasan mandeknya saya bermusik. Tak terasa, hampir 4 tahun saya berkelit dan beralasan pada diri saya sendiri.

Setiap kali saya tersiksa dengan adrenalin palsu ketika khikmat mendengar musik, setiap itu pula mimpi kembali bermusik mendesak-desak keluar dari kandangnya.

 

Saya berharap tahun ini bisa memulainya lagi, walau cuma selangkah.

Visi musik saya adalah sederhana, analog, atraktif, dan live.

1. Sederhana : terpengaruh dari harmoni standard jazz, yang terdiri dari piano, bass, drum, dan vokal. Piano dan bass bisa berlaku sebagai melodis dan ritmis dengan bergantian. Saya pengagum berat bass-line yang groovy, semenjak jatuh hati pada jazz. Jadi pada setiap komposisi dengan bunyi bass yang tertangkap rada jelas, saya pasti tergila-gila. Ajaibnya, bass itu sifatnya sangat personal, bassline-nya bergantung pada karakter setiap bassist. Jadi, lebih tepat bukan tergila-gila pada suatu komposisi tapi pada bassist yang bersangkutan. Di luar itu, saya suka irama ritmis, interaksi antara drum dan bass.

2. Analog : saya penyuka aransemen akustik, suara murni dari setiap alat musik tanpa efek elektronik apapun. Namun saya menghindar dari irama yang monoton pada setiap verse, seperti kesan saya pada beberapa nomor cover version akustik.

3. Atraktif : sebagai pemerhati ekspresi, gesture, dan emosi pada pertunjukkan live, peran vokalis yang atraktif seringkali memetik nilai tertinggi, bagaimana ia sanggup berinteraksi dengan crowd yang ada, bersenang-senang bersama. Karena poin ini, saya cenderung lebih ingin menghasilkan musik cover version yang memungkinkan adanya momen sing along, dengan aransemen “ala kita” yang bersifat baru dan mengajak. Dengan musik groovy dan beberapa singkup, tak pernah gagal membuat badan saya diam, tak bergoyang. Sangat mungkin, menular juga pada pendengar.

4. Live : untuk mencapai misi menangkap energi penonton, sekaligus mendekatkan kerja musik unttuk menyuarakan musik sebagai ekspresi jiwa. Mimpi jauh saya adalah manggung di ruang-ruang publik kota, seperti taman. Memfungsikan musik sebagai hiburan warga kota yang terbuka, siapapun bisa terhibur dan ikut serta, tak ada batasan. Jangka pendeknya, membuat episode live performance dari studio yang dibagi via youtube untuk bisa diakses siapapun yang memerlukan musik live untuk mewarnai hari-hari ini. Seperti saya yang selalu haus mencari inspirasi dalam kanal youtube.

 

Saya tumbuh dipengaruhi musik lokal, seperti Kahitna, Glenn Fredly, Raisa, Tulus, dan Maliq n d’essentials. Dan pendengar musik tak populer macam Float, Bonita and the Husband, BubuGiri, Soulvibe.

Sedangkan musik luar negeri terkini yang saya kagumi adalah Adele, Maroon5, Jason Mraz, lainnya masih terpaku pada selera 90-an, macam Brian McKnight, BoysIIMen, atau angkatan legenda lebih lawas, seperti The Beatles, Chicago, atau karya-karya gubahan David Foster.

 

Saya tidak berpresentensi menjadi artis terkemuka dengan produksi album musik, dan masuk ke industri yang riuh.

Cukup bisa menularkan energi bermusik, memperlakukan musik dengan alasan sederhana, menyebarkan rasa senang pada siapapun.

Mungkin kami bisa menyenandungkan lagu yang mengingatkan momen-momen penting dalam hidup Anda. Saya tak sabar menantikan saat-saat kita bisa bernyanyi bersama-sama.

 

#Diatonikota

 

@nikpraw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *