Sampai kapan sebenarnya seorang anak menjadi anak? Selamanya? Bukankah ada saatnya orangtua harus menyadari bahwa anak mereka sudah punya kehidupannya sendiri?

Kenapa mereka sulit sekali menerima kenyataan bahwa anak mereka sudah menjadi manusia dewasa? Apa alasan mereka enggan melepas buah hatinya untuk pergi menjelajah dunianya sendiri?

Menjadi manusia seutuhnya, yang punya keinginan pribadi, punya pendapat sendiri dan punya pemikiran murni yang tidak lagi terlalu mudah dipengaruhi.

 

“Suka atau tidak, seorang anak berubah menjadi makhluk dewasa. Makhluk yang tidak bisa dipaksa untuk bilang bahwa orangtua mereka adalah manusia-manusia terbaik di dunia (jika bukan itu yang mereka rasa). Makhluk yang nantinya akan menganggap dunia sebagai musuh dan kedua orangtua sebagai kekuatan yang harus dilawan.

Akankah mereka bisa merelakan kita untuk mengambil keputusan sendiri? Yakinkah mereka bisa menjadi navigator penunjuk arah dan bukan pemegang kemudi kehidupan kita? Relakah mereka melenturkan kebenaran yang mereka yakini untuk dapat berpihak dengan kebenaran yang kita punyai?” – Indra Herlambang, 2011, Kicau-Kacau.

 

Kalian tidak bisa lagi menentukan hidup kami.

Kami memilih jalan hidup kami sendiri. Kami hanya ingin menjadi manusia. Kalian pasti merasakan ini dahulu. Kalian mungkin terlalu takut menjaga kami dari kepahitan dunia seperti kalian yang sudah bosan mengecap semua rasa. Sementara kami ingin menantang semua rasa itu.

Kalian pasti sedih, ketika kami merasa gagal, merasa disakiti. Tapi bukankah itu biasa?

Kami merasa dunia terlalu menarik untuk dijalankan biasa saja. Kalian tentu pernah muda, pernah rasakan adrenalin yang berbuncah ketika sanggup menaklukan sesuatu.

Kami seringkali tiba di rumah dengan segenap kelelahan. Mungkin kalian tahu rasanya menjadi dewasa, ketika entah mengapa tanggung jawab tiba-tiba ada di pundak kami. Tak diminta. Kami tidak bisa kabur ketika tidak suka. Dewasa berarti menghadapi segala sesuatunya.

Tiba saatnya hukum dunia tidak bisa dilawan. Waktu tidak bisa mencegah kalian untuk tidak menua dengan perilaku menyerupai anak-anak. Kalian menjadi lebih ingin diperhatikan, lebih senang didengar.

Kami sungguh tidak ingin menyakiti hati kalian, sungguh tidak ingin juga mengabaikan. Kami sedang seru-serunya menaklukan dunia. Kami cuma bisa berdoa supaya hati kalian dijaga oleh Tuhan dengan kandang yang bebal agar tidak terlampau sensitif terhadap tingkah kami.

Kami memang aneh nan membingungkan di mata kalian. Kalian pun begitu dimata kami. Kami bisa dinilai keras kepala untuk alasan yang berbeda. Semua perintahmu mungkin petunjuk bagi kami untuk melakukan hal yang sebaliknya.

Bukannya kami tak bisa memahami. Kami bukan tidak ingin mendengar cerita-ceritamu. Tapi kami butuh lebih banyak ruang untuk berhadapan dengan masalah kami sendiri. Kami kadang tak suka membicarakan masalah kami kepada kalian. Kadang menjelaskan pun tidak ada gunanya. Malah rentan diserobot dengan beragam nasihat.

Kami mungkin sedikit sekali mengenal dunia dibanding kalian, hingga kalian dinyatakan lulus untuk dapat memberikan nasihat yang shahih. Nasihat yang diatasnamakan sebagai solusi menurut kalian, namun bagi kami bukan sama sekali. Karena jejalan nasihat itu, kami seringkali merasa jengah didekati. Semua nasihat dan saran, kami artikan sebagai paksaan dan ancaman.

Semata-mata, kami hanya ingin teman berkeluh kesah, bukan untuk dinasehati. Kami ingin tidak perlu bersilang pendapat untuk segala hal, karena itu melelahkan. Bisakah kita sepakat untuk tidak sepakat, bahwa dunia kita berbeda.

Kami tidak bisa paham, bagaimana kalian harus berlaku. Kalian mungkin lebih tahu. Kalian menjadi lebih ingin diperhatikan, lebih senang didengar. Sedangkan kami tidak ingin selalu mendengar keluhan masa tuamu.

Tidak bisa cocok, karena kita tak pernah berada sejajar. Kalian mungkin tak pernah mengenal kami –anak-anaknya- sebagai manusia biasa yang berada dalam generasi yang berbeda. Kalian tentu tak mengenal kami sebagai manusia di ‘dunia luar’.

Harus diakui jika kita memang berjarak. Entah karena kalian tak sempat belajar di masa transisi kami menjadi dewasa, atau perkembangan kami terlalu pesat untuk bisa diikuti.

Fakta yang sangat menyakitkan, ketika kita berkembang menjadi asing satu sama lain, karena emblem terukir dalam pada peran orangtua dan anak. Apakah peran-peran itu sulit sekali ditanggalkan? Berjabat tangan, berpelukan atau sekadar menatap satu sama lain sebagai dua manusia dewasa yang sejajar.

 

Kami hanya ingin dipahami, bahwa kami mungkin tumbuh tidak seperti apa yang kalian harapkan. Mungkin kalian berpikir kami adalah generasi edan, tapi sebaliknya pula kami berpikir kalian tidak masuk akal bagi kami.

Kami sungguh ingin melihat kalian berbahagia di hari tua kalian. Walaupun kebahagiaan kalian bergantung pada anak-anak, maafkan kami jika tak selamanya bisa selalu membahagiakan. Kami berharap kalian bisa memunculkan kebahagiannya sendiri, dari apapun itu.

Kami paham bahwa orangtua hanya melakukan semua atas dasar cinta dan sayang. Banyak momen ketika kami terlalu arogan untuk bisa menerima semua itu dengan hati senang.

Yakinlah, dalam hati yang paling dalam, bahwa kami bukan maksud mengabaikan kalian, jika kami terlihat mengisi waktu dengan hal lain. Kami berusaha untuk menunaikan pintamu dahulu, supaya kami menjadi manfaat yang besar.

Maafkan kami.

Kalian mungkin sangat bisa merasa marah, kesal, kecewa, atau tersinggung. Tapi kami selalu berdoa agar hati kalian dijaga oleh Tuhan, sehingga nama kami tetap abadi dalam doa kalian.

Pahamilah kami.

 

 

Dari semua yang telah terjadi, saya ingin sekali memberikan hadiah terbaik bagi anak saya kelak, kemampuan bertransisi dari orangtua anak menjadi manusia dan manusia. Mungkin tidak mudah dan tidak selalu sukses, tapi setidaknya ada usaha mencoba. Hanya itu persembahan terbaik yang bisa kita tawarkan, selain bekal pendidikan. Menikmati keindahan merasakan keterhubungan antarjiwa. Pengalaman yang mungkin langka untuk dirasakan setiap manusia.

 

#nikeveryday

@nikpraw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *