Saya senang sekali menonton, apalagi untuk sesuatu yang beda. Seni yang berbeda.

Untuk pertama kalinya, saya menonton pertunjukkan seni komedi tunggal, standup comedy. Kali pertama untuk seseorang yang spesial, my rockstar, Pandji Pragiwaksono.

Sejujurnya, saya tidak terlalu terhubung dengan seni komedi tunggal. Di tengah trennya yang menjadi populer di Indonesia sekarang, saya coba menontonnya melalui youtube, nonton di TV, tapi selalu gagal mendapatkan tawa yang segitunya. Memang berdasarkan yang saya baca, seni ini ada syaratnya untuk dapatkan efek maksimal yang ditawarkan; perlu ditonton langsung dan di tempat tertutup yang katanya akan memantulkan tawa. Ketika bersama penonton lain, ada efek tawa yang menular, ketika sekeliling kita tertawa, lebih mudah bagi kita bereaksi hal yang sama.

Tak sabar rasanya merasakan efek itu. Mulai berjuang mendapatkan tiketnya sejak Agustus lalu, berjibaku dengan ribuan fansnya yang bergerak cepat. Saya yang tertidur pada tengah malam saat presale dibuka, harus terbangun dini hari dengan kepanikan kehabisan tiket termurah, akhirnya bisa mengamankan tiket ’emas’. Memang, dia seorang penjual yang handal, membuat kami mau-maunya berjuang di tengah malam!

Saya menjadi penikmat karya Pandji sejak buku Nasional.is.me (2010) masih bisa didapat gratis dari blognya, menjadi pembaca setia blognya (sebagai blog walker, senang sekali dengan blog updatenya yang cukup aktif), dan kemudian menjadi cukup mengikuti apa yang diresahkan Pandji. Filtrasinya agak kendor, ia membiarkan pembaca tahu detail mengenai dirinya; mulai cerita masa kecilnya remaja hingga dewasa, keluarganya (bahwa ia adalah produk dari orangtua yang bercerai) hingga ia punya keluarga sendiri (dengan 2 anak), detail perjalanan kariernya, sampai cerita dibalik karya-karyanya, dan mengapa ia seperti menjajah segala lini profesi (komika, penulis, musisi rap, sampai pembuat film).

Dari semua karyanya, saya lebih ‘loyal’ menjadi penikmat bukunya; Berani Mengubah, Merdeka dalam Bercanda, Indiepreneur, sampai yang gratisan, macam “Menghargai Gratisan”, “How I Sold 1000 CDs in 30 Days”. Mungkin karena saya penikmat cerita personal, dan Pandji tidak segan membuka segala cerita dan pengalamannya menjadi seperti sekarang, melalui buku-bukunya.

Bagi saya, Indipreneur, adalah karya terbaik Pandji bagi saya sejauh ini. Saya sebagai anak bawang, yang malu-malu kucing untuk mulai berkarya, seperti terbakar provokasi Pandji yang begitu kuat disini. Ia membuka rahasianya bisa berkarya secara mandiri, menjadikan dirinya aktor utama. Aktor utama, produser utama, yang memproduksi materi yang berpusat dari dirinya sendiri; sebagai konseptor, pemikir, eksekutor, menjadi panglima dari tim ribet yang menopang dirinya sebagai pekarya.

Sekali, saya ingin menikmati pertunjukkan komedi tunggalnya, Mesakke Bangsaku. Sebenarnya lebih pada keterpukauan saya pada tempat pertunjukkannya, Teater Jakarta, tempat yang begitu impresif ketika saya menonton teater Laskar Pelangi dulu. Saya bertekad ingin menonton pertunjukkan lain di tempat itu lagi, tapi karena kehabisan tiket, jadilah merasakannya dari file digital saja.

Materi Mesakke saat itu, cukup berkesan bagi saya. Ia memperlihatkan keberpihakkannya pada isu-isu ‘berat’ nasionalistis, yang dikemas menjadi lucu. Ia ingin mengajak lebih banyak orang peduli untuk turun tangan pada masalah Indonesia yang bertumpuk. Dengan cara yang menyenangkan, komedi, semua orang ‘pasti’ mau dengar cerita ke-Indonesia-an, disaat kita muak ketika cerita yang serupa terlontar dari politisi, atau berbagai masalah Indonesia ditulis di koran-koran. Pandji tahu, perlu lebih banyak dari kita yang peduli dan mengambil peran, untuk mengurai masalah Indonesia yang sungguh pelik.

Mesakke dikemasnya dalam sebuah World Tour yang menjadikannya sebagai orang Indonesia pertama yang melakukan World Tour; bukan musisi pertama, juga bukan komika pertama, tapi orang Indonesia pertama.

Juru Bicara yang kembali diajaknya berkeliling dunia untuk kedua kalinya ini adalah ‘sekedar’ untuk membuktikan yang pertama bukanlah kebetulan. Saya meniatkan diri untuk menjadi saksi bahwa itu memang bukanlah kebetulan.

Tak sabar untuk mengalami pertama kalinya menonton pertunjukkan standup comedy secara langsung, sekaligus menunjukkan dukungan saya pada sebuah kerja keras menghidupkan mimpi, ditengah arus hebat kebanyakan dari kita yang cukup menjalani hidup atas apa yang ada di hadapan mata saja.

Benar sih, membeli pengalaman untuk tertawa, rasanya asik juga. Tiga jam-an tertawa rasanya cukup puas, apalagi bahkan hampir seluruh setnya adalah hal serius yang tidak ada lucu-lucunya, apalagi kalau bukan tentang permasalahan bangsa kita ini, topik yang sulit membuat orang tertawa. Banyak lemparan umpannya ke penonton ‘bekerja dengan baik’, menunjukkan kematangannya sebagai pembicara publik. Benar, bahwa pengalaman tidak bisa ingkar, kemampuan Pandji belasan tahun berbicara menggenggam mic, bahkan tidak bisa dilihat hanya dari 2 kali tur dunia, 5 kali membawakan standup spesial.

Selama tiga jam itu, air mata saya seperti dipermainkan. Ia keluar karena repetisi tawa rapat dan hebat, sampai keluar dalam versi haru, ketika ia membahas soal #AksiKamisan. Bagaimana seorang ibu yang melahirkan bayi, dimandikannya-disuapinya bayi yang begitu tergantung tak berdaya, membesarkannya hingga ia bisa merangkak-berjalan-berbicara-bersekolah TK-SD-SMP-SMA, hingga akhirnya berkuliah di Trisakti, kemudian anaknya tak pulang, hilang. Kumpulan ibu yang telah lelah menjalani hidup, tua renta, masih menyimpan asa untuk hadir di depan istana setiap kamis, sejak tahun 1998, untuk mendapatkan jawaban dari negara, “kemana anak saya?”. Memohon kejelasan kabar, apakah anaknya telah kehilangan nyawa, atau meminta diberitahu kemana anaknya pergi jika mereka masih ada kini. Entah negara adalah makhluk hidup atau mati, nyatanya ia tak pernah menjawab pertanyaan kumpulan ibu itu. Negara juga belum sudi menampakkan sosoknya untuk menemui, beradu mata untuk merasakan sorot mata lelah sang ibu.

pandji_jbwt

Tiga topik yang membuat aliran air mata saya tidak bisa ditahan; tentang keluarga (hubungan orangtua-anak), cerita meraih mimpi, dan tentang Indonesia, dengan apik dibungkus dalam Juru Bicara, dan diledakkan di akhir pertunjukkan.

Sesaat setelah Pandji mengucap “thank you!” dan membungkukkan badan, tanda usainya pertunjukkan malam itu, penonton perlahan serentak berdiri. Diiringi tepuk tangan panjang, Pandji tak kunjung menegakkan badannya. Semenit kemudian, ia mengepalkan tangannya ke atas, terlihat sekali kelegaan yang ia coba lepaskan. Tak lama ia mentahbiskan bahwa “Juru Bicara World Tour dengan resmi selesai!” ia pun tersungkur di lantai, ditengah confetti yang meledak, dan deru tepuk tangan yang tak kunjung henti. Waw! Momen yang begitu indah, ia terlihat kehilangan arah untuk bergerak, menahan emosinya yang meledak.

Terbayang kerja keras yang telah ditempuh, kelelahan amat sangat yang mendera, pikiran yang tersita terus menerus memikirkan strategi tur, jam tidur yang berkurang, waktu bersama keluarga yang terpinggirkan.

Ketika Pandji sudah bisa mengendalikan emosinya, ia menambah keepikkan cerita beratnya menjalani tur Juru Bicara World Tour ini. Ia bercerita tentang hilangnya logo sponsor utama dalam seluruh publikasinya di tengah-tengah tur dunia itu berjalan. Cerita buruk menimpa, sponsor utama itu tiba-tiba mundur. Ok, jika hal itu terjadi pada saya, saya ingin sekali bumi menghisap saya seketika.

Situasi begitu sulit, sampai ia harus mengeluarkan uang sendiri dan berhutang untuk membuat mimpinya tetap terwujud. Sekedar untuk mewujudkan mimpi? Picik sekali kedengarannya. Ia mengusahakan segala hal untuk mewujudkan mimpinya sendiri. Terdengar egois?

Di balik ungkapan klise “Mewujudkan Mimpi”, ia nyatanya bertanggung jawab terhadap atribut yang melekat padanya; warga negara Indonesia yang mencoba menguraikan masalah bangsanya, komika yang ingin memajukan seninya agar bisa terus menghidupi orang-orang didalamnya, seorang Ayah yang ingin membesarkan hati anak-anaknya bahwa “mimpi adalah awal dari segalanya”.

Untuk atribut yang terakhir, ia sepertinya sungguh ngotot untuk melakukan pembuktian. Ia merasa sebagai anak yang bodoh, selalu berada di ranking terakhir saat berada di bangku sekolah. Pandji kecil selalu bertanya-tanya, mengapa selalu berada di urutan terbuncit? Apakah ia bodoh? Luka itu yang terus dibawa hingga dewasa, hingga membuatnya ngotot untuk melakukan Tur Dunia, mimpi terbesar bagi semua penghibur.

Ia ingin membuktikan “jika seorang yang selalu ranking terbawah saja, bila melakukan Tur Dunia dua kali, maka seluruh mimpi anak Indonesia seharusnya valid!”. Ia ingin berkata pada anak-anaknya melalui apa yang dilakukannya, “make dreams come true” jauh dari hal klise. Segalanya dimulai dari mimpi, dan usaha yang tidak mudah untuk terus menghidupkannya, tapi amat layak untuk diperjuangkan. Jangan takut pada sebutan yang dilekatkan padamu, bodoh atau apapun itu, jangan membuatmu sekalipun mundur.

Sampai di situ, air mata saya mengalir.

Oke, Pandji, ternyata ini tidaklah egois, bukan tentang dirimu semata. Apa yang dirimu lakukan setidaknya berarti bagi saya, mungkin juga bagi 3500 penonton Juru Bicara Jakarta, malam itu. Bahwa mewujudkan mimpi itu, demikian indahnya, dan perlu. Apapun mimpi itu, ternyata amat layak diperjuangkan.

#JuruBicaraJKT malam itu berarti bagi saya, memompa energi untuk menghidupkan mimpi saya. Memompa untuk berkarya, tak takut jelek (karena memang pasti akan jelek), tak takut menjadi tidak laku.

Semoga kelak, saya punya hubungan dengan penikmat karya saya, seperti hubungan saya dengan Anda, Bung Pandji!

Terima kasih untuk menjadi seorang yang tidak kelihatan patah arang ditengah beratnya memperjuangkan mimpi, karena elo mungkin adalah pemimpin bagi kami yang percaya bahwa “menghidupkan mimpi” adalah keharusan.

 

#nikeveryday

@nikpraw

One Thought on “Pompa Menghidupkan Mimpi”

  • Wah saya baru tau kisah mewudkan mimpinya Pandji. Tapi sejak awal saya setuju kalau Pandji merupakan komedian yang nasionalis. Dan memang sudah saatnya saya merasakan langsung atmosphere suasana stand up comedian secara langsung, bukan hanya melalui layar tv, khususnya untuk acaranya Pandji. Btw, Pandji sekarang lagi mengadakan tur stand up ke berabagai kota kan kak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *