Minggu, 25 Juni 2017.

Mungkin hanya sekali seumur hidup. Idul Fitri, tanggal lahir, dan hari minggu.

Ah, indah sekali semesta mengatur.

 

Mungkin tidak semua orang bisa merasakan.

Rasanya, cukup menyenangkan.

Kata seorang teman, didoakan (dan dirayakan) orang-orang sedunia.

Bantu saya untuk mengamininya.

 

Minggu, ketika baca kabar, gereja memundurkan jadwal ibadah mingguan, karena menghormati ibadah sholat Ied kaum muslim.

Makin bertambah rasa hangatnya.

Walau kemudian tak ada rasa gembira yang berlebih.

Momen-momen kelabu, sedang menerjang.

Tiga tulisan terakhir mungkin menggambarkan.

Kesemuanya hampir berada dalam nada yang serupa, sebenarnya.

 

Saya tidak bisa menampik.

Hanya lewat tulisan, saya bisa merekamnya.

Agak bosan juga, kenapa setiap mulai menulis, rasa yang keluar selalu seperti itu.

Ekspresi yang muncul, kadang serupa.

 

Banyak ketakutan menerjang.

Saya takut tidak bisa menjadi apa yang diharapkan keluarga saya, terutama Ibu, yang ‘hanya’ menginginkan saya menapaki hidup yang ‘normal’.

Saya takut tidak bisa membahagiakan Ibu, atau mungkin malah memberi kekecewaan padanya.

Saya takut tidak bisa menyenangkan orang-orang terdekat.

Saya takut dijauhi.

Saya takut tidak dicintai.

 

Saya takut dengan pandangan orang.

 

Kekesalan dan kemarahan menyerbu.

Saya kesal pada semua pertanyaan yang mengarah pada, “Apa maumu? Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan? Apa kau tidak ingin seperti orang kebanyakan?” Karena saya ingin meneriakkan “Tidak Tahu!” pada kesemua jawabnya. Saya sebenarnya bisa lantang menjawabnya. Tapi lagi-lagi, saya terlalu takut jawabnya akan menantang dunia yang penuh penghakiman ini.

 

Saya kesal, ketika dengar perbincangan yang bahas tentang pencapaian-pencapaian hidup orang kebanyakan.

Saya ingin marah, sebab saya ngotot, bahwa pencapaian orang yang berbeda-beda.

 

Sesungguhnya, saya tidak perlu marah. Itu bukan salah mereka yang bertanya atau memperbincangkannya.

Itu pertanda, saya yang insecure.

Insecure pada hidup saya yang tidak kemana-mana. Insecure pada pilihan hidup yang tidak pada arus utama.

Ada keraguan yang menjalar, tentang apa yang saya kerjakan selama ini.

Untuk apa saya melakukannya? Untuk siapa? Mengapa saya melakukannya?

Apa manfaatnya?

 

Tiba-tiba, muncul kengerian bahwa semua yang saya kerjakan bukanlah apa-apa. Bukan untuk siapa-siapa. Tidak menghasilkan apa-apa.

Saya terlalu takut menjadi sia-sia. Saya takut menjadi tidak berarti.

Saya takut tidak mencapai apa-apa.

 

Saya menjadi ragu pada apa yang saya inginkan.

Benarkah itu yang saya inginkan?

 

Saya takut jika yang saya inginkan ternyata hanya pengakuan dari orang lain.

Hanya ingin disukai, hanya ingin dilihat, hanya ingin dikenal, hanya ingin apresiasi, hanya ingin tepuk tangan. Hanya asik menjalankan apa yang saya pikir hebat, tapi ternyata bukanlah apa-apa.

 

Saya jadi ragu, tentang apa yang membuat saya bahagia.

Bahwa ternyata saya tidak menemukan apa-apa ketika saya berusaha mencapai kebahagiaan yang saya yakini.

Saya takut semua itu semu.

 

Saya jadi takut bahagia, sebab selalu ada kesedihan yang terselip atau kesedihan lain yang menyertai sesudah kebahagiaan.

 

Saya sebelumnya pura-pura tidak peduli pandangan orang. Mulai paham mengapa kebanyakan dari kita begitu peduli dengan apa kata orang, sebab bergelut dengan ketakutan-ketakutan sendiri itu mengerikan. Bergelut dengan diri sendiri itu tidak mudah.

Tidak heran, kebanyakan kita menginginkan hidup ramai-ramai seperti Pasar Malam, karena awal dan akhir kita dipastikan sepi.

 

“Mengapa kita ini harus mati seorang diri? Lahir seorang diri pula? Dan mengapa kita ini harus hidup di satu dunia yang banyak manusianya? Mengapa kita harus bercerai-berai dalam maut. Seorang. Seorang. Seorang. Dan seorang lagi lahir. Seorang lagi. Seorang lagi. Mengapa orang ini tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati? Aku ingin dunia ini seperti Pasarmalam.”

 

Dari kesemuanya, saya jadi takut, ketakutan ini menghadang saya.

*

Mungkin saya hanya perlu menemani ketakutan-ketakutan itu, supaya mereka tidak sendirian.

Banyak orang rela, tidak menjadi diri sendiri, agar tidak merasa sendiri. Padahal mereka hanya tidak ingin bergelut dengan sulitnya mengenal diri sendiri.

Tidak ada yang perlu disangkal, sebenarnya. Saya dan ketakutan itu memang sedang bertengkar.

Saya belum mengenalnya dengan baik, pertanda saya juga belum cukup mengenal diri sendiri.

 

Percuma, saya menjadi sok berani.

Jika saya belum berdamai dengan ketakutan-ketakutan itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *