Tulisan ini saya selesaikan dalam perjalanan kembali pulang, di tengah penerbangan panjang, Washington Reagen, DC – Chicago Ohare, IL – Tokyo Narita, Jepang – Jakarta CGK . Waktu panjang yang tidak terlalu saya musuhi, malah teramat saya nikmati. Dengan pelayanan, makanan, fasilitas maskapai yang memanjakan. Selain membayar waktu tidur, walau mungkin tidak bisa dibandingkan tidur dalam keadaan duduk dengan memejamkan mata di ranjang beralaskan kasur dan bantal.

Buku yang menunggu untuk dilahap untuk membunuh waktu, teranggurkan. Sisa waktu membuka mata, sedikit saya habiskan dengan menuntaskan beberapa utang dengan laptop, sementara banyak waktu saya habiskan dengan memutar musik, mengiringi lamunan pada perjalanan yang mungkin tidak akan terlupa sepanjang usia.

 

Saya tidak terlalu ingat, dalam penerbangan hampir 2 jam dari Eugene, OR, menuju transit di Salt Lake City, UT, atau dalam 4 jam di udara setelahnya sebelum menjejak Washington, DC untuk kembali bertemu sesama fellow setelah penempatan di kota masing-masing selesai, saya tidak sanggup menahan air mata. Duduk di sisi jendela, membuka laptop untuk menuntaskan editing video yang nekat saya siapkan untuk sesi debrief di Washington, DC. Nekat, karena saya pikir, membuat video akan memudahkan, ternyata jauh berkebalikan. Kepalang terlanjur memulai, melakukan editing sekaligus belajar sebagai sebenar-benarnya pemula, mundur membatalkan bukan juga suatu pilihan. Alhasil, mengurangi waktu tidur, melakukan editing di segala tempat adalah satu-satunya pilihan. Di bandara, di udara.

Entah karena kurang tidur, terjaga sejak dini untuk penerbangan sebelum matahari menampakkan diri, mendapati sopir taxi yang bermasalah saat penjemputan menuju Bandara Eugene dalam waktu yang mepet, atau akumulasi segala rasa lelah dan pengalaman yang membuncah, tembok penahan emosi saya runtuh. Laptop terbuka di atas meja lipat, saya lemparkan pandangan ke dataran asing berpuluh ribu kaki di bawah. Perlahan, pandangan berbayang, pelupuk mata menghangat, lalu mulai ada tetesan basah, dan makin membasah. Membayangkan perjalanan teramat absurd yang hampir mendekati akhir, membayangkan apakah saya pantas mendapatkan semua ini, akankah saya masih mendapati kesempatan yang lebih baik dari ini.

 

‘Menaklukkan’ Amerika selama 5 minggu, bukan saja tentang menunaikan mimpi, tetapi juga perkara lebih mengenal diri sendiri. Saya banyak melewati hal-hal yang tidak terbayangkan, bahwa saya bisa melaluinya. Selain banyak keinginan yang sekian tahun lalu hanya sekedar ‘tabungan keinginan’ kini tertunaikan, menemui kebetulan-kebetulan tidak terbayangkan membuat segalanya jauh lebih dari cukup.

 

Banyak cerita yang mungkin tidak bisa terungkap.

 

Saya sungguh tidak paham kemana ini akan membawa. Jika tidak akan kemana-mana, setidaknya kantong ‘yang perlu saya lakukan’ terisi banyak hal baru.

 

Ingatkan bahwa pengalaman ini tidak boleh tidak berbekas. Saya ‘terikat kontrak’ menjabat tangan pemuda-pemudi dan inspirasi-inspirasi dari hampir seluruh bagian dunia, yang luar biasa. Perjalanan untuk membuat dunia sedikit lebih baik, mungkin tidak akan pernah mudah. Tapi pemuda-pemudi itu akan selalu menjadi pengingat, bahwa mungkin mereka menghadapi keadaan yang lebih sulit.

 

Saya sadar sepenuhnya, telah menerima keistimewaan yang mungkin tidak banyak orang yang bisa rasakan. Jika jalan mengubah keadaan sedikit lebih baik teramat bergejolak, ingatkan saya, minimal tidak menjadi bagian dari masalah.

 

Saatnya kembali menghadapi dunia nyata, yang tidak akan pernah mudah, dan pasti bergejolak.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *