Telat.

Iya, ini sudah hampir 4 bulan meninggalkan 2017.

Baru sempat.

Iya, klise.

 

Katanya, masih lebih baik telat dibanding tidak sama sekali.

Iya, saya tahu, klise.

 

Telat, adalah soal waktu.

Kata Sapardi Joko Damono, “Yang Fana adalah Waktu.”

 

Jadi, tentang sang waktu, mari kita abaikan dulu.

 

Jurnal tahunan 2016 lalu, saya awali dengan kata “Ajaib”.

2017, ternyata tidak kalah ajaibnya.

 

Atau mungkin, saya (atau kita) harus berhenti menempelkan status, tentang ajaib atau tidak atau kelompok status-status lainnya, sebab kenyataannya, setiap pengalaman yang kita jalani semuanya ajaib, tidak bisa dikelompokkan.

 

2017, saya ditabalkan pada pelajaran klise, “Kita boleh berencana, Tuhan-lah yang menentukan”.

Pelajaran klise yang coba saya ingkari.

 

Saya beranggapan, bahwa SEMUA yang saya inginkan dapat tercapai dengan segala usaha maksimal (yang terbiasa saya lakukan) dan segala kemampuan yang Tuhan berikan pada saya.

Adalah ketakutan terbesar saya, menjadi sia-sia dan tidak memaksimalkan (terlalu banyak) kemampuan yang diberikan-Nya.

Karenanya, secara LOGIKA, saya bisa melakukan semua yang saya bayangkan. Saya tidak punya alasan, untuk mengatakan “tidak bisa”. “Kurang apa lagi?!” mungkin Tuhan bisa merespon demikian.

Nyatanya, tidak bisa! Dan kenyataan itu, adalah pukulan yang cukup telak bagi saya.

 

Saya tahu, segala cara yang saya upayakan bukanlah sia-sia, hanya hasilnya tidak sesuai dengan apa yang saya inginkan.

Lagipula, mengapa harus sesuai dengan yang saya inginkan? Egois sekali memang!

 

Sebagian besar momen (lebih dari separuh awal tahun), bisa dikata dirundung kelabu. Terekam dalam tulisan-tulisan di momen ini dan itu.

 

Banyak ketakutan menerjang. Sejujurnya terekam di sini.

 

Sebelum terperosok pada kelabu yang kian dalam, Tuhan seperti buru-buru menghibur saya. Ia hadiahkan komunitas internasional pada saya. Tanpa tanggung-tanggung, Ia kirim saya hingga ke Amerika dengan cukup mudah tak lama setelah rundungan kelabu itu!

Bagi seseorang yang pernah mengubur mimpinya untuk belajar pada negeri Barat saat mimpi itu sudah terlihat di depan mata,  ‘hadiah’ ini agak keterlaluan. Pernah merasakan perihnya mengubur mimpi hingga tak kuasa  untuk mendekatinya lagi, ‘hadiah’ ini seperti mengolok-olok (sangat lucu sebenarnya). Hadiah yang membangunkan sendiri mimpi yang terpaksa dibunuh mati. Hadiah yang mungkin mengganti seluruh perspektif saya tentang mimpi dan kehidupan. Coba bayangkan, saya bisa sampai mengunjungi kota yang menjadi referensi dunia di bidang yang saya geluti. Tuhan memang perancang cerita komedi paling epik!

 

Saya benar-benar tidak paham, apa rencana Dia untuk saya?! Jika saya belum diizinkan mendapatkan apa yang saya inginkan, mengapa Dia berikan lagi semua ini, membangkitkan apa yang sudah saya kubur dengan cara yang tidak pernah terbayangkan.

Dan karena itu pula, saya jadi bingung, apa yang harus saya lakukan setelah ini.

Terlampau naif, menganggap semua ini kebetulan.

Tidaklah naif, jika lantas saya berpikir, bahwa saya harus melakukan sesuatu, untuk ‘mengurangi’ kadar keterlaluan yang saya terima.

 

Namun, di saat yang sama, saya agak trauma untuk mendapat pukulan telak, bahwa sesuatu yang saya inginkan tidak harus terjadi.

Trauma yang mengakhiri jurnal 2016, sepertinya terjadi lagi.

 

Sepertinya, saya sedang diberi banyak pelajaran untuk lebih menerima, “Tuhan-lah yang berhak menentukan”.

Menerima jika tidak semua harus terjadi.

Menerima bahwa waktu memang fana. Waktu bagi orang lain, ternyata bukan (atau belum) waktunya saya.

Saya perlu menerima dan percaya sepenuhnya pada rencana-rencanaNya, percaya bahwa saya telah disiapkan waktu sendiri.

 

Kini, mungkin saya hanya perlu sekedar terus mencoba melakukan sesuatu, tanpa perlu menginginkan hasil.

 

Semua ini –secara tidak sadar– menuntut saya berubah, untuk meruntuhkan tembok-tembok ke-AKU-an, bukan menjadi semata yang saya inginkan, tapi yang Dia inginkan. Yang melegakan, perubahan ini juga menunjukkan pertumbuhan.

Katanya, jika ingin bertahan, perubahan adalah keniscayaan.

Ahh, ternyata saya HANYA sedang bertahan. Kalau gitu, benar yang klise itu, “bertahan itu,  luar biasa berat”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *