Amerika Serikat (AS), mungkin masih menjadi negeri impian bagi banyak orang hingga saat ini. Meski negeri itu kini banyak melahirkan kontroversi atau muncul pesaing yang bisa melampaui, tidak bisa dipungkiri, AS masih menjadi parameter dunia di berbagai hal.

Terpilih menjadi Professional Fellow melalui program Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) untuk bisa tinggal di salah satu kota di AS dan belajar tentang Lingkungan dan Keberlanjutan, mungkin merupakan keistimewaan terbesar yang pernah saya dapatkan hingga saat ini. Berdasarkan proses seleksi yang mencocokkan minat, latar belakang, dan bidang yang saya tekuni; saya dipilihkan untuk tinggal di Kota Eugene, Oregon, dengan host di Divisi Perencanan Kota (Planning and Development Department, Bappeda, kalau di Indonesia) yang membantu saya menghubungkan ke beberapa pihak yang bisa menjawab keingintahuan saya tentang isu ‘kota berkelanjutan’, dan peran serta masyarakat atau komunitas.

Sebelum tiba di kota penempatan, seluruh peserta program dikumpulkan di Washington, DC untuk menjalani orientasi awal.

 Washington, DC

Washington, DC adalah ibukota negara AS yang difungsikan sebagai pusat pemerintahan kota didominasi kantor-kantor pemerintahan atau lembaga-lembaga pusat (federal). Karena fungsi itu, kesan yang saya dapat dari kota ini adalah keformalannya, cenderung kota yang sepi, dan cukup ‘steril’. Mengimbangi kesan lingkungan kantor-kantor pemerintahan yang pastinya tidak terlalu menarik, Washington DC memiliki banyak museum bagus yang bisa dijelajahi gratis. Impresi pengalaman bermuseum yang sangat mengagumkan.

Di hanya satu hari bebas di hari Minggu, kami terpaksa harus memilih dari terlalu banyaknya pilihan museum, di luar kunjungan wajib ke lokasi-lokasi ikonik. Alhasil, saya hanya sempat mengunjungi National Museum of The American Indian (segala tentang asal usul orang Amerika asli dari suku Indian serta berbagai kearifan lokal yang menyertainya), National Air and Space Museum (segala tentang luar angkasa dan upaya AS menaklukannya), dan National Museum of Natural History (segala tentang alam, makhluk hidup beserta evolusi dan sejarahnya) di kawasan Smithsonian Museum.

National Museum of The American Indian
National Museum of The American Indian
National Air and Space Museum
National Air and Space Museum
National Museum of Natural History
National Museum of Natural History

Itu pun tidak sempat mengulik keseluruhan isi museum, saking besar dan ‘penuh’nya isi setiap museum itu. Kalau mau menjelajahi utuh tiap museum, rasanya 1 hari penuh barulah cukup. Memasuki beberapa museum secara sekilas saja, saya bisa menyimpulkan, AS  teramat unggul dalam mengemas, menyajikan, dan menyajikan cerita. Mungkin kemampuan ini yang membuat AS masih ‘memegang’ dunia, dan masih sulit mencari negara atau negeri yang bisa menjadi kompetitornya dalam hal ini.

Memberi cerita pada tengeran pun bukan pengecualian. Ruang-ruang yang terbentuk diantaranya museum atau bangunan penting juga menjadi bagian dari cerita, agar manusia bisa menikmati bangunan seutuhnya dari luar, dan yang paling penting, dengan skala kemanusiaan sangat terjaga. Terasa ketika kami menjelajah museum dan tengeran ikonik; Capitol Hill, Washington Museum, Lincoln Memorial, dan (bagian belakang) White House, dengan berjalan kaki dan sedikit mengendarai bus. Ini bukan anomali, seperti tipikal kota di negara maju, kita dibiarkan berjalan  kaki dengan sangat nyaman, walau tanpa terasa, melampaui jarak yang kita pikir tidak sanggup ditempuh dalam hitungan akumulasi.

Capitol Hill
Washington Monument
Lincoln Memorial
Lincoln Memorial

Sejujurnya, saya hampir tidak punya ekspektasi terhadap Washington DC, upaya ngeles bahwa sebelum keberangkatan saya tidak sempat menyiapkan tujuan atau bahkan membaca-baca apa yang ada di kota ini. ‘Tidak punya ekspektasi’ memang selalu menjadi pengundang datangnya rasa yang berlimpah. Saya sama sekali tidak membayangkan mengunjungi mengunjungi pemandangan yang familiar di film-film.

 

Washington DC, memang spesial. Ia tidak bisa disamakan dengan kota-kota AS pada umumnya. Pada masa akhir program, saat semua peserta dikumpulkan kembali, saya diajak teman Indonesia bertemu teman jurnalisnya yang sedang menjalani program magang di bidang media. Dari obrolan itu, saya baru tahu kalau warga DC tidak memiliki hak memilih di Pemilu Presiden AS sebagaimana negara bagian (state) lainnya. Status DC, sebagai pusat pemerintahan diberlakukan sebagai state (negara bagian) netral.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *