Tidak selalu apa yang kita inginkan harus terjadi. Tidak selalu doa harus terkabul.
Kita sebenarnya diperlihatkan bahwa apa yang kita inginkan, ternyata tidak selalu sesuai dengan yang kita butuhkan, tidak seindah yang kita bayangkan, atau kita tidak/belum cukup mampu mengemban apa yang kita inginkan itu.
Kita selalu berpikir, apa yang kita inginkan adalah puncak dari segalanya, tapi ternyata tidak.

Dulu, saya selalu berpikir, bisa mengenyam pendidikan di luar negeri adalah sebuah tujuan puncak. Siapa yang bisa menyangkal, tingginya kualitas pendidikan luar negeri (di negara maju). Jika katanya kunci mengubah kondisi adalah melalui pendidikan, maka memaparkan diri dalam lingkungan pendidikan unggulan adalah satu-satunya pilihan. Dengan kemampuan diri yang tidak terlalu buruk, cukup membuat saya yakin untuk bisa bersaing dalam institusi pendidikan global. Keyakinan yang sedikit benar, saat saya berhasil diterima di lebih dari satu institusi pendidikan di negara maju. Tetapi kenyataan bahwa semesta tidak memperkenankan saya untuk menjalaninya, adalah salah satu patah hati terdalam yang berpengaruh besar bagi saya dalam memahami kehidupan ini. Ada alasan-alasan yang memanjakan saya untuk menyalahkan keadaan. Saya sebetulnya tidak ingin mengulang-ulang cerita kekecewaan ini sebagai bahan perlombaan penderitaan yang kerap dipamerkan di lingkungan sosial, dan mencari pembenaran bahwa sekolah di luar negeri ternyata tidak penting-penting amat atau ke-skeptis-an saya melihat lulusan luar negeri pun tidak serta-merta menjamin kualitas diri yang lebih mumpuni, apalagi menjamin kehidupan nanti yang lebih baik. Hanya, saya tidak menafikan bahwa cerita ini selalu muncul, hinggap lekat, masih selalu mengiringi dalam benak. Mungkin saking begitu dalamnya kekecewaan itu atau penerimaan yang belum sempurna saya amini. Sembari proses penerimaan itu masih berjalan hingga kini, secara perlahan saya mulai paham makna dibaliknya.

Makna yang menampar saya untuk tidak berhak merasa kecewa. Paling tidak, saya telah tiga kali dibiayai untuk ‘belajar’ ke luar negeri, setelah momen patah hati itu, di 3 benua yang berbeda; Eropa, Asia, dan Amerika.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan.” (QS. 55 : 13)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *