Lima tahun lalu, saya menuliskan 2 tulisan (ini dan ini) persis pada momen seperti ini. Barusan, saya baca kembali dua tulisan itu, saya tersenyum kecut.

Kecut merasakan kembali emosi antusias dan optimisme saya yang meledak-ledak pada saat itu. Kini, mau membuat satu tulisan saja sebagai rekaman peristiwa lima tahunan sekaligus penanda masih aktifnya blog ini (hehehe…), baru dimulai kurang dari 2 jam dari bergantinya tanggal pelaksanaan pesta demokrasi 2019.

Kini apatis ? Tidak juga. Mungkin akibat pertarungan politik kini yang sangat panjang dan penyebaran masifnya berita/opini yang begitu memuakkan. Walaupun dari tulisan saya sendiri, perdebatan sengit bukan tidak terjadi lima tahun lalu. Tapi kini rasa bisingnya sangat memekakkan. Kalau lima tahun lalu, saya dengan frontal menuliskan pilihan saya, kini, untuk membicarakannya saja saya cenderung menghindar.

Seperti dulu, saya masih merasa politik menarik, politik tentang gagasan untuk kepentingan publik, bukan yang berbicara perihal orang (baca : politisi) semata. Jika ketidakmungkinan itu ada, itulah mencari seseorang (manusia) yang ideal.

Seperti dulu, bagi saya, memilih 1 diantara 2 kandidat capres jauh lebih mudah daripada harus memilih 1 dari ratusan caleg. Jika dua kandidat capres sampai digali-dikoyak habis-habisan informasi tentangnya, kini rasanya ratusan caleg itu disentuh pun tidak, bahkan mereka seperti dibiarkan dinilai atas dasar capres tertentu yang diusung. Alih-alih mengkompetisikan kekayaan ratusan visi dan program, mereka seakan dikerdilkan hanya menjadi dua kelompok absolut.

Saya merasa legislatif, belum mendapat porsi perhatian yang semestinya. Padahal perannya tidak kalah penting dengan pemerintahan yang mungkin lebih babak belur dibombardir kritikan. Legislatif memang lebih bisa berlindung pada kerjanya tidak yang ‘terlihat’, seperti pembuatan peraturan, dorongan kebijakan, pengawasan, dibanding hasil kerja eksekutif yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat. Tetapi, sampai kapan legislatif dibiarkan ‘dalam lindungan’ tak terjamah seperti itu, padahal kita diberi kesempatan untuk memilih mereka langsung, sementara kita tidak bisa memilih langsung siapa yang dapat duduk di jabatan pemerintahan. Memang, faktanya kualitas para legislatif masih jauh dari panggang api. Saya pernah mendengar langsung, legislatif provinsi DKI Jakarta yang menghambat pembangunan kawasan ramah lingkungan terintegrasi (bangunan hemat energi, sistem daur ulang air, ruang hijau yang cukup), karena mereka tidak memahami pentingnya konsep seperti itu. huff…belum lagi legislatif daerah lain yang kualitas sumber daya manusia dan privilage-nya mungkin tidak semelimpah di ibukota.

Seperti dulu, saya melakukan riset khusus untuk memilih (caleg). Jika dulu, saya memiliki preferensi yang cukup kuat, kini, segalanya samar. Lima tahun berlalu, dengan segala perkembangan pesat teknologi dan sistem penyediaan informasi, sampai detik ini, saya teramat tidak puas terhadap ketersediaan informasi resmi para caleg. Saya berekspektasi, bisa mengetahui (paling tidak) latar belakang pendidikan dan pekerjaan para caleg dengan jelas, karena dengan itu, kita dapat mengira-ngira isu/bidang yang menjadi perhatiannya, tanpa harus berharap muluk ada tawaran program/gagasan yang mengubah. Dari 105 caleg DPR-RI hanya 42 Daftar Riwayat Hidup resmi yang bisa dibuka, lebih sedikit lagi yang mengisi dengan benar. Saya makin lemas, ketika profil 186 caleg DPRD lebih sulit lagi didapat. Era media sosial (medsos) yang menggelora pesat, saya kira berdampak pada cara caleg menginformasikan tentang dirinya. Medsos juga bisa menjadi indikator penting untuk mengukur keterbukaan dan akuntabilitas dirinya menjadi calon wakil rakyat. Saya bayangkan, idealnya wakil rakyat, memang dapat selalu diakses dan merespon publik, dengan medsos sebagai sarana paling mudah. Dari sedikit profil resmi lengkap yang ada, saya coba secara acak mengkroscek ke medsos bersangkutan, ternyata lebih sedikit lagi yang menggunakan medsos seperti apa yang saya bayangkan. Huff….Haruskah memilih berdasarkan foto yang paling sering terpampang di jalan ?

Seperti dulu, saya masih berusaha keras untuk memilih individu, mengingat sistem kepartaian Indonesia masih tidak layak dititipkan kepercayaan langsung. Jika dulu, saya harus mengganti pilihan caleg, hanya karena tidak respek dengan partai pengusung yang bakal mempengaruhi pencapresan, kini preferensi partai hampir bisa dinihilkan.

Saya tersenyum.

Dari rasa letupan tinggi dulu dan bentangan gamang kini. Saya bisa menduplikasikan rentetan kalimat saya lima tahun lalu yang masih relevan. Tanpa ada bandingan dulu dan kini.

Presidennya (mungkin) berubah, iya. Tapi kondisi secara umum juga berubah? Mungkin belum tentu.

Perubahan bukanlah proses singkat (5 tahunan). Dan perubahan hanya akan terjadi, jika berawal dari diri kita masing-masing. Perubahan tidak akan hadir selama masih menunjuk orang lain untuk melakukan sesuatu.

Doa saya pun masih berlaku persis sama.

Semoga Indonesia selalu dilimpahkan kedamaian untuk bisa menghormati dan menghargai perbedaan. Tak ada dari kita yang dilahirkan sama. Dalam perbedaan, ada hikmah dan anugrah yang disiapkan Tuhan agar bisa disyukuri. Walaupun perlu energi lebih untuk bisa memahami perbedaan, tapi saya justru dapat pembelajaran yang lebih banyak. Bagaimana saya selalu menginginkan suatu lingkungan yang berbeda; berkenalan-berdiskusi-belajar dari orang-orang yang berbeda latar belakang untuk dapat mengembangkan pikiran. Tidak ada yang bisa disalahkan dari perbedaan.

Setelah pesta usai, janganlah bergantung pada sang pemenang untuk bisa menciptakan perubahan. Kembali bekerja dari tempat kita masing-masing dengan selalu menyebarkan energi positif, niscaya perubahan akan hadir. Namun jangan tanya kapan tepatnya.

 

Patut disyukuri juga, berada di negara yang memungkinkan kita dapat memilih langsung seperti ini. Tak banyak negara (ini asumsi, tanpa fakta jelas, memang) memiliki keistimewaan ini. Bahkan negara demokrasi setua Amerika Serikat pun tidak.

Pada akhirnya, saya telah punya pilihan (caleg). Pilihan yang sudah pasti tidak ideal, apalagi dari hasil pencarian data dan informasi yang tidak ideal. Pilihan yang datang dari kebetulan, kebetulan muncul di linimasa (ya, Anda boleh terbahak-bahak di sini…, sudah heboh sok-sok-an cari data resmi, malah yakinnya dari akun media sosial….), sudah tahu ia melakukan banyak aktivisme, baru sadar, dia nyaleg, apalagi menilik program yang ditawarkan selaras dengan apa yang saya yakini. Pilihan yang semoga tidak berdampak buruk, walau bersumber dari kebetulan nemu. Siapa tahu lolos. Sudah, jangan tanya-tanya lagi ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *